Postingan

Menampilkan postingan dengan label Khidir

Adab Bersantap

Gambar
Sang  Quthb  itu bagaikan singa, berburu merupakan urusannya; yang lainnya--para pejalan-- memakan sisa-sisanya. Sejauh kemampuanmu, upayakanlah memuaskan sang  Quthb, sehingga dia mendapat kekuatan dan memburu binatang-binatang buas. Ketika dia sakit, mereka jadi tak ternafkahi, karena semua makanan yang disediakan bagi kerongkongan datang dari tangan sang Akal. Mengingat pengalaman  ruhaniyah yang terjadi pada orang-orang lain hanyalah sisa-sisanya, maka camkanlah hal ini; jika hatimu juga mengidamkan hidangan ruhaniyah. Dia bagaikan sang Akal, sedangkan para pejalan itu bagaikan anggota-anggota tubuh: pengaturan tubuh itu bergantung kepada sang Akal. Kelemahan sang  Quthb terletak pada tubuhnya, dan bukan bersifat  ruhaniyah; kelemahan itu pada bahtera, bukannya pada Nuh. Sang  Quthb  berputar mengedari dirinya sendiri, sementara di sekitarnya berputar benda-benda angkasa. Ulurkanlah bantuan untuk memperbaik...

Harta Karun Dibawah Rumah

Gambar
Hancurkan rumahmu,    [1] karena seratus-ribu rumah bisa dibangun dari bebatuan murah ini. Harta-karun terletak di bawah rumah, [2] tiada jalan lain mencapainya: jangan ragu, hancurkan rumah, jangan berpangku-tangan saja. Sekali kau raih harta-karun itu,   mudah saja membangun ribuan rumah tanpa susah-payah. Ketika sakaratul-maut tiba, rumah ini akan hancur dengan sendirinya, dan harta-karun dibawahnya pastilah takkan terungkap, maka harta-karun itu tak pernah kau dapat; karena jiwamu mendapat anugerah Ilahiah  sebagai upah dari upayamu menghancurkan rumah. Tanpa amal itu, tiada ganjaran: Tiada sesuatu pun dijumpai manusia di akhirat kecuali balasan dari amalnya.   [3] Catatan: [1]  Di alam-dunia ini jiwa ditempatkan dalam raga, itulah rumahnya. Sehingga "menghancurkan rumah" itu  dapat dibaca: "menundukkan karsa raga dalam cahaya sunnah  Muhammad SAW." [2]  Mengingatkan salah satu kisah sangat terkenal, yang ...

Aku di Sini (labbayka)

Gambar
Suatu malam, seorang lelaki merintihkan,  "Yaa Allah" sampai bibirnya manis dengan pujian kepada-Nya. Iblis mengejeknya, "Kasihan engkau, wahai lelaki malang, mana jawaban,  'Aku di sini,'  untuk semua rintihan,  'Yaa Allah- mu?' Tiada satupun jawaban datang dari  'Arsy: sampai kapan engkau merintihkan  'Yaa Allah' dengan wajah suram?" Si lelaki patah-hati, berbaring, tertidur dan bermimpi: di situ dilihatnya Nabi Khidir as, di tengah dedaunan menghijau. Nabi Khidir bertanya: "Wahai lelaki, engkau berhenti memuji Allah, mengapa engkau sesali  dzikir- mu kepada-Nya?" Lelaki itu menjawab, "karena tiada jawaban  'labbayka'  (Aku disini), kutakut diriku telah terusir dari gerbang-Nya." Nabi Khidir menjawab, "Allah bersabda: rintihan  'Allah'- mu itu adalah  'labbayka' -Ku, dan permohonan, duka serta semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu. Gerakan dan upayamu untuk meng...