Postingan

Menampilkan postingan dengan label asma

Telah Disandingkan ash-Shabr dengan al-Haqq

Luqman mengunjungi Dawud,              [1] dan didapatinya sang pemilik qalb murni, sedang sibuk membuat cincin-cincin dari besi. Lalu dilihatnya Sang Raja yang Mulia itu menyatukan cincin-cincin itu satu sama lain. Tak pernah sebelumnya dia lihat karya sang penakluk besi, dia takjub menyaksikan itu semua, dan sangat ingin tahu. "Benda apakah itu? Akan kutanyakan kepadanya, apa yang akan dibuatnya dari cincin-cincin besi yang disatukan itu?" Tapi dia menahan diri, seraya berkata di dalam hati, "lebih baik aku bersabar: kesabaran adalah pemandu tercepat menuju sasaran pencarian." Jika engkau tak mengajukan pertanyaan, rahasia terungkap padamu lebih cepat, kesabaran itu bagaikan burung yang paling cepat terbangnya. Jika engkau memilih untuk bertanya, lebih lambat sasaran tercapai, apa yang semula mudah, jadi lebih sulit diraih, karena ketergesaanmu. Karena Luqman tetap berdiam-diri, sang penakluk besi yang piawai bekerja...

Hijab Mencengangkan

Bagi seorang nabi, alam-dunia ini senantiasa bertasbih dengan memuji asma -Nya; sementara kita menganggapnya dungu tak berarah. Dalam penglihatannya, alam-dunia ini berlimpah cinta; sementara yang lain berpendapat ia beku dan mati. Dalam penglihatannya, lembah dan gunung bergerak dengan lembut: di dengarnya percakapan lirih antara tanah dan batu. Bagi mereka yang bodoh, alam dunia ini seperti benda mati, diam, tak bergerak. Sungguh tak pernah kudapati suatu hijab membutakan, yang lebih mencengangkan daripada hal ini. Sumber: Rumi: Matsnavi   IV: 3532 - 3535 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski  dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996. Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra .

Bahkan Isa putra Maryam pun Menyingkir

Gambar
Inilah kisah tentang Isa putra Maryam, ketika dia menghindar dari orang-orang dungu, menjauh, hendak mengungsi, ke puncak sebuah gunung. Isa putra Maryam bergegas-cepat mendaki sebuah gunung. Sedemikian bergegas, bagaikan dikejar seekor singa. Seseorang mengejarnya, dan menyapanya, “Salam untukmu. Tak kulihat sesuatu pun mengejarmu, mengapa engkau begitu terburu-buru?” Tetapi Beliau tetap berlari, sedemikian terburu-buru, tak mau berhenti untuk menjawab. Sang penanya bersikeras, terus dikejarnya Sang Nabi itu. Lalu, dia bertanya lagi, kali ini sampai harus berteriak: “Demi Tuhan,” serunya, “berhentilah sebentar!” “Sungguh aku bingung, apa yang membuatmu melarikan diri?” “Wahai Nabi nan mulia dan pemurah, Apa yang membuatmu bergegas-lari? Tak ada singa mengejarmu. Tiada pula ancaman atau wabah?” Sang Nabi menjawab, “Aku melarikan diri dari seorang yang tolol. Pergilah! Sedang kukhawatirkan keselamatanku, janganlah kau tahan aku lagi!” Orang itu bertanya lagi, “Tapi, bukankah engkau al-...