Postingan

Menampilkan postingan dengan label susu

Menyusui Bayi Musa

Gambar
Wahai Ibunda Musa, susuilah dia. Lalu lepaskanlah ke sungai. Jangan kau khawatirkan tentang ujiannya selama menempuh alam dunia. Barangsiapa telah meminum susu sejati di alam sebelum-kelahiran, akan dapat memilih ilmu yang haqq di alam ini; seperti bayi Musa mengenal susu ibunya. Sumber: Rumi: Matsnavi   II: 2969-2970. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski. Dimuat dalam "Rumi: Daylight" Threshold Books, 1994. Terjemahan ke Bahasa Inggris dari Bahasa Persia oleh Yahyá Monastra. Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi. Catatan: "Sesungguhnya telah kami wahyukan kepada ibundamu, wahai Musa."  "(Yaitu) Letakkanlah dalam tabut, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan telah Ku-limpahkan kepadamu kasih-sayang dari-Ku, dan supaya engkau diasuh dibawah pengawasan-Ku." ...

Jangan Kau Sesali

Gambar
Jangan kau sesali lenyapnya kebahagianmu; ketahui lah ia akan kembali padamu dalam bentuk yang lain. Saat kanak-kanak kau berbahagia ketika kau menyusu. Ketika mulai tumbuh membesar kau bosan pada susu, dan kesenanganmu beralih pada minuman lain dan madu. Kesenangan adalah sesuatu yang esensial ia datang menyapamu melalui aneka bentuk. Ia bergerak dari satu sudut ke sudut lain pada unsur air dan tanah-lempung, yang membentuk dirimu. Ia bisa mendadak mempertontonkan keindahannya pada butir air hujan, lalu ia merasuki pokok mawar, dan keanggunan kecambahnya ketika bibitnya bangkit dari tanah. Ia bisa datang dari air, dari kelezatan roti dan daging, lalu melalui kecantikan, lalu melalui anggunnya kuda tunggangan. Sampai, mendadak suatu hari, dari balik hijab-hijab itu, ia menerobos dan menghancurkan berhala-berhala: Ia bukan lah bentuk yang ini bukan pula bentuk yang itu.              [1] Jiwa, saat kau te...

Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash

Gambar
Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia, Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit. Karena benda-benda terinderai itu letaknya di alam bawah. Cahaya Tuhan itu bagaikan laut, sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya. Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak, yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata. Cahaya inderawi, yang kasar dan berat, tersembunyi pada hitamnya mata. Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi, bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian? Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi, apalagi apa yang ada dibaliknya, yang lebih murni dan halus? Alam-dunia ini bagaikan jerami, dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak; ia hanya dapat menyerahkan diri, tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak. Kadang ia dibuat merunduk, kadang menengadah; kadang bersuara, kadang utuh, kadang terpecah. Kadang ia digerakkan ke kiri, kadang ke kanan; kadang darinya tumbuh duri, kadang menyembul mawar. Per...

Tingkatkanlah Kehausanmu

Gambar
Siti Maryam menggendong bayi Isa as Adalah kesakitan luar-biasa Siti Maryam, yang membuat bayi Isa mulai berbicara sejak dari buaian. Apa pun yang tumbuh, berkembang bagi kepentingan mereka yang perlu; sehingga sang pencari dapat menemukan apa yang dicarinya. Rabb yang Maha Tinggi telah menciptakan lelangit, agar berbagai keperluan dapat terpenuhi. Dimana ada sakit, kesanalah obat menuju; dimana ada kefakiran, kesitu rezeki mengalir. Ketika muncul pertanyaan sulit, kesitu lah jawaban bergerak; dimana perahu berada, kesitu lah air mengalir. Tak perlu air dicari: tingkatkanlah kehausanmu, sampai air memancar dari atas dan bawah dirimu. Ketika sang jabang bayi menangis kehausan, barulah susu memancar dari dada ibunya. Catatan: Didalam kitab al-Hikamnya yang termasyhur, Ibn ‘Athailah, mursyid ke 3 Tarekat Syatariah, menyampaikan: “Nyatakanlah sifat-sifat kehambaan-Mu, niscaya Dia akan membantumu dengan Sifat-sifat-Nya. Nyatakanlah kehinaanmu, niscaya Dia akan membantumu dengan Kemuliaan-N...

Tanggalkan Jubah Takabur

Tanggalkan takabur dari tubuhmu: tiada yang pantas dipakai seorang pencari kecuali pakaian rendah-hati. Ilmu umum bisa didapat dari menghafal, untuk ketrampilan tangan bisa dilatih. Jika engkau idamkan kefakiran spiritual, engkau harus berguru: bukanlah itu soal ketrampilam lidah atau tanganmu. Jiwa belajar rendah-hati dari jiwa yang lain; bukan dari buku atau ucapan. Rahasia-rahasia kefakiran spiritual  memang tersimpan dalam qalb sang pencari; tapi pengetahuan akan rahasia-rahasia itu belum lagi dimilikinya. Hal itu masih harus menunggu, sampai dadanya lapang dan terisi Cahaya:  Allah bersabda, "Bukankah Kami  yang melapangkan dadamu?"; [1] Karena jika Kami menaruh Cahaya di situ, tentu Kami pula yang telah lapangkan dadanya. Ketika engkau telah menjadi pancuran-susu, tak perlu engkau memerah sumber-susu lain. Pancuran-susu abadi ada dalam dirimu, mengapa kesana-kemari engkau membawa pasu, sibuk mencari...

Semuanya Beringsut dengan Enggan di Sepanjang Jalan ini, Kecuali ...

Sang Nabi SAW berkata bahwa para ahli surga itu lemah dalam berdebat karena keagungan pencapaian mereka; Karena sempurnanya kehati-hatian mereka  dan menganggap  rendah diri sendiri,  bukan karena lemah-akal, pengecut  atau lemah-iman. Dengan memberikan keuntungan kepada lawan mereka, diam-diam mereka mendengar hikmah ayat "... dan kalau tidaklah terdapat disana para lelaki beriman ..." [1] Maka, tidak menyentuh kaum kafir yang tercela itu menjadi suatu tugas, demi membebaskan kaum beriman. Bacalah kisah perjanjian Hudaibiya: "... adalah Dia yang menahan tanganmu dari mereka..." ; dari sabda itu pahamilah keseluruhan kisah. [2] Bahkan dalam kemenangan, sang Nabi SAW memandang dirinya sendiri dikendalikan oleh buhul-tali Keagungan Ilahiah. (Beliau SAW bersabda,) "Bukanlah aku tertawa karena aku menyergapmu di waktu fajar sehingga berhasil menangkap dan mengikatmu; Aku tertawa karena aku menyeretmu dengan rantai dan belengu men...