Postingan

Menampilkan postingan dengan label penciptaan

Ketundukan Nuh

Gambar
Nuh,  alaihi salam, berkata: "Tak kutujukan tatapanku selain pada-Mu; jika aku sedang tampak demikian, itu hanya sarana, karena sebenarya hanya Engkau sasaran sejati pandangan-Ku. Aku cinta pada penciptaan-Mu: baik pada saat penuh rasa syukur, maupun ketika sabar sedang diperlukan. Bagaimana mungkin kuikuti mereka yang tak beriman,  dengan terhijab pada mencintai ciptaan-Mu." Terpujilah mereka yang mencintai penciptaan-Nya; sedangkan yang hanya mencintai ciptaan-Nya tergolong kaum yang tengah kehilangan keyakinan. Catatan: "Dan buatlah bahtera bersama pengawasan Kami dan wahyu Kami..." (QS Huud [11]: 37). Sumber: Rumi: Matsnavi  III: 1359 - 1361. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski, dalam "Rumi: Jewels of Rememberance," Threshold Book, 1996, dari Terjemahan Bahasa Persia ke Bahasa Inggris oleh Yahya Monastra. Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi.

Cinta itu Lautan Tak Bertepi

Gambar
Cinta itu lautan tak bertepi, di atasnya lelangit bagai serpihan buih belaka; yang gelisah, bagai Zulaikha dambakan seorang Yusuf. Ketahui lah, roda pemutar lelangit digerakkan oleh gelombang Cinta: bila bukan karena Cinta, semesta kan membeku. Bagaimana yang semula benda mati, berubah menjadi tumbuh-tumbuhan? Bagaimana tetumbuhan mengorbankan diri agar dilimpahi ruh? Bagaimana ruh mengorbankan diri demi sebuah Hembusan; yang kelembutan tiupannya pernah menghamili seorang Maryam? Semuanya akan kaku membeku bagai es, tak akan terbang menjelajah seperti belalang. Setiap  zarah  tengah jatuh cinta pada Kesempurnaan itu, dan bergegas tumbuh bagai berkecambahnya tunas. Bergegasnya mereka adalah sebuah  takbir   batiniah. Mereka memurnikan diri demi menyambut Sang Ruh. Sumber: Rumi:   Matsnavi  V: 3853 - 3859 Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Nicholson.

Siapakah yang Tuli?

Yang berpanjang angan itu seperti orang tuli: sering didengarnya tentang kematian, tapi itu tak membuatnya sadar tentang kematiannya sendiri, atau bersiap menghadapi ajalnya. Tamak membuat orang buta: kelemahan orang lain dicermati dengan teliti, lalu disiarkan kemana-mana; seraya sedikit pun tak menyadari kelemahan dirinya sendiri. Alangkah anehnya, jika ada orang telanjang tapi takut bajunya robek. Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan, sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya, tapi dia takut hartanya disasar pencuri. Orang lahir dengan polos dan pergi dengan telanjang; diantara dua kejadian itu, kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas, takut hartanya hilang. Saat saat ajal tiba, ketika ratusan orang meratap, jiwanya sendiri mentertawakan ketakutannya. Ketika itu, pecinta dunia baru sadar: tak sedikit pun dia miliki emas-permata; demikian pula, seorang yang cerdik sekali pun, tahu dia tak bisa menyiasati. Amatilah anak kecil yang bermai...

Semua Tengah Bermohon

Kita semua bergantung sepenuhnya pada kemaha-kuasaan Sang Pencipta. Seluruh kuasa, seluruh kekayaan, semata milik-Nya; kita pengemis rudin. Lalu mengapa kita mendaku, lebih unggul satu sama lain? Bukankah kita semua sama, tengah bermohon di muka pintu istana-Nya? Sumber: A.J. Arberry, The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Ke Arah Mana Hasratmu?

Sebagian kita betah berada di rumah, sementara yang lainnya senang bepergian. Hening menyepi di gunung, nyaman bagi sebagian orang, tapi membosankan buat yang lain. Setiap kita diciptakan untuk sebuah amal tertentu, dan hasrat akan amal itu ditaruh dalam hati kita. Tak mungkin tangan dan kaki bekerja tanpa digerakkan hasrat. Jika kau dapati hasratmu mengarah ke Langit, kepakkan sayapmu dan jangkaulah. Tapi jika hasratmu mengarah pada sesuatu di bumi, teruslah rintihkan permohonan ampun. Orang bijak menangis, pada bagian awal jalan; sementara orang bodoh menyesal pada bagian akhir. Cermati baik-baik sejak awal, akhir seperti apa yang kau hasrati, sehingga tak ada penyesalan pada Hari Perhitungan. Sumber: Rumi:   Matsnavi   III: 1616 - 1619 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh  Nicholson . Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.

Dikembalikan ke Serendah-rendah Keadaan

Gambar
Keindahan, yang diwarisi manusia dari Adam, yang kepadanya para malaikat bersujud, segera luruh, bagaikan jatuhnya Adam dari  al-Jannah . Keindahan menjerit: "Mengapa? Setelah aku cemerlang, kini memburam?" Dia menjawab: "Salahmu adalah karena engkau hidup terlalu lama." Jibril menyeretnya, seraya berkata: "Pergilah dari al-Jannah ini, enyahlah engkau dari majelis indah ini." Ia bertanya: "Apa gerangan maksud dari direndahkan setelah aku sebelumnya dimuliakan?"            [1] Jibril menjawab: "Dimuliakannya engkau adalah sebuah pemberian dari-Nya, sedangkan rendahnya engkau kini adalah penghakiman-Nya atas nilai sebenarnya dirimu." Ia menjerit: "Wahai Jibril, bukankah telah bersujud  engkau,   [2] sebelumnya, dengan sepenuh dirimu, mengapa sekarang kau usir aku dari al-Jannah?" "Jubahku tanggal,                                     ...

Perlahan dan Berhati-hati

Allah menciptakan Bumi dan Lelangit: lapis demi lapisnya, dengan seksama, dalam enam masa; [1] Walaupun, dengan satu “kun, faya kun," [2] Dia mampu menciptakan seratus Bumi dan Lelangit. Sedikit demi sedikit, Yang Maha Mandiri menyempurnakan penciptaan insan, sampai usianya empat puluh tahun; walaupun dalam sekejap Dia mampu menciptakan lima puluh insan sempurna langsung dari ketiadaan. Isa ibn Maryam menghidupkan seorang yang telah mati, dengan satu do’a: apakah menurutmu Pencipta Isa a.s. tak mampu menciptakan insan sempurna, sekaligus kaum demi kaum? Keseksamaan ini bertujuan untuk mengajarimu, agar mencari Rabb dengan perlahan-lahan, tanpa jeda. Arus kecil yang mengalir tanpa henti, tak akan tercemar atau kotor. Dari gerak yang perlahan dan hati-hati, lahirlah kebahagiaan dan kegembiraan: dari sebutir telur kehati-hatian, akan menetas seekor burung keberuntungan. Catatan: [1] “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan lelangit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam...

Buncis Rebus

Lihatlah buncis dalam periuk, betapa ia meloncat-loncat ketika dipanaskan api. Sewaktu direbus, selalu ia timbul ke permukaan, seraya merintih tiada henti. Sambil mengeluh, "Mengapa kau letakkan  api di bawahku? Engkau telah membeliku, mengapa kini engkau malah menyiksaku?" Sang istri memukulnya dengan penyendok, [1] "Nah, sekarang," katanya, "sungguh-sungguh matang lah engkau, dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api. Tidaklah aku merebusmu karena membencimu; sebaliknya, ini lah yang akan membuatmu lezat dan harum. Dan menjadi nutrisi dan bercampur dengan jiwa yang hidup: kesengsaraanmu ini bukanlah penghinaan. Ketika masih hijau dan segar, engkau hirup air di kebun: air yang engkau serap itu demi api ini. Rahmat-Nya terlebih dahulu daripada murka-Nya, [2] tujuannya agar dengan Rahmat-Nya engkau menderita kesengsaraan. Rahmat-Nya telah mendahului murka-Nya, agar  yang-diperdagangk...