Postingan

Menampilkan postingan dengan label syahwat

Santapan Cahaya

Gambar
Walaupun cahaya adalah santapan  bagi jiwa dan bagi penglihatan- qalb, ragamu pun membutuhkannya.  Jika ragamu, yang semula kebiasaannya bagaikan setan,   tak dapat berubah menjadi gemar akan cahaya, tidaklah sang Nabi akan bersabda,   "bahkan setanku telah menjadi Muslim."  Ketika perutmu tengah rakus, engkau perlu berjarak dengan dunia; ubahlah asupan makananmu. Jika qalb -mu yang sedang sakit, segera cari obatnya: ubahlah sikapmu. Jika engkau diperbudak makanan, bebaskan dirimu, dengan melemahkan ragamu. Di dalam lapar terdapat banyak nutrisi: carilah dengan tekun dan lambungkan harapan menemui-Nya. Santaplah cahaya,  jadilah seperti mata. Wahai insan, akrabilah para malaikat. Seperti malaikat, jadikan berpuji pada-Nya sebagai santapanmu. Sumber: Rumi: Matsnavi  V: 288, 293 – 298. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski,  dalam "Rumi...

Jebakan dengan Umpan Hasratmu Sendiri

Mengikuti hasratmu sendiri artinya melarikan diri dari Tuhan, dan menumpahkan darah ruhaniyah di hadirat Keadilan-Nya. Dunia ini sebuah jebakan dan hasratmu itu umpannya; hindari jebakan, hadapkan lah wajahmu kepada-Nya. Jika kau ikuti Jalan, ratusan keberkahan bersamamu; sedangkah jika kau menuju arah sebaliknya, buruk nasibmu. Karenanya, sang Nabi berkata, "dengarkan nuranimu walaupun para ahli agama menasehatimu untuk urusan duniamu." Tanggalkan hasratmu, agar terungkap Rahmat-Nya. Dari pengalamanmu sendiri jelas lah bahwa semua kebaikan menuntut pengorbanan. Karena kau tak mungkin menghindar dari dunia, jadi lah hamba-Nya; dan keluarlah dari penjara-Nya menuju taman-Nya. Ketika terus kau awasi pikiran dan tindakanmu, akan selalu kau saksikan Keadilan dan Sang Hakim; Walaupun kelalaian masih menutup pandanganmu tidaklah itu mencegah Sang Matahari bersinar. Sumber: Rumi:   Matsnavi   VI: 3777 - 3784. Terjemahan ke Bahasa Inggris ole...

Apa yang Kan Terjadi?

Jika bercerai engkau, dengan keruwetan pikiranmu, walau hanya satu jam saja; menurutmu, apa yang kan terjadi? Jika kau biarkan dirimu tenggelam, bagaikan seekor ikan kedalam lautan cinta Kami; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau hanyalah sepotong jerami; dan Kami Nyala Abadi. Jika  melompat  engkau  keluar, dari gubugmu yang hina untuk bersatu dengan nyala; menurutmu, apa yang kan terjadi? Telah ratusan kali kau nyatakan janji untuk berhenti membesar-besarkan diri, untuk merendah bagaikan Bumi. Jika sekali saja, engkau patuhi janjimu sendiri; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau bagaikan permata berharga, terkubur, tersembunyi di dalam kubangan lumpur. Jika engkau basuh semua ketidak-murnian dari wajahmu, yang sejatinya sangat elok; menurutmu, apa yang kan terjadi? Jika sebentar saja engkau tinggalkan keakuan dan kerakusanmu, kau pecahkan tamengmu sendiri, bangkit dalam sebuah pencarian untuk menyatu dengan yang ...

Musuh Terbesarmu

Jika bukan karena perkasanya keakuanmu sendiri, yang telah menyergapmu dari dalam, takkan penghadang dari luar diri mampu mencelakaimu. Karena tuntutan syahwat mu, hatimu telah tersandera oleh kerakusan,  cinta-dunia dan niat-buruk. Sekian lama terpenjara didalam dirimu sendiri, engkau berubah menjadi pencuri rakus, yang semakin lemah dihadapan kuasanya. Simaklah nasehat Sang Nabi nan bijak-bestari: "Musuh terbesarmu berada diantara ke dua sisimu." Sumber: Rumi: Matsnavi  III: 4063 - 4066 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson .

Terbelenggu Rantai tak-Terlihat

Gambar
Tuhan membuat kemasyhuran begitu berat, bagaikan seratus kilogram besi, begitu banyak orang terikat rantai tak-terlihat. Bangga-diri dan suka-khianat menutup Jalan pertaubatan, sedemikian rupa, sehingga pengidapnya bahkan tak mampu mengutarakan penyesalan. "Sungguh Kami telah memasang pada leher-leher mereka  belenggu sampai ke dagu, maka mereka tengadah:"                                     [1] rantai itu tidak diikatkan kepada jasmani kita. "Dan Kami jadikan dari hadapan mereka dinding, dan dari belakang mereka dinding, lalu Kami tutupi mereka, maka mereka tidak dapat  melihat," dinding di hadapan dan di belakang mereka.                     [2] Dinding tegak itu tampil bagaikan padang terbuka, sang pendosa tak tahu itu adalah dinding ketetapan Ilahiah. Cinta duniawimu bagaikan dinding  yang ...