Postingan

Menampilkan postingan dengan label sombong

Mengapa Berbangga Diri dan Angkuh?

Gambar
  Mengapa berbangga-diri dan angkuh? Takan bisa engkau memikat matahari dengan berselingkuh. Berhentilah berjalan dalam bayanganmu sendiri, berkubang dalam pikiranmu yang dungu. Angkat kepalamu, tataplah ke arah matahari, menjelajahlah diantara bebungaan, jadilah insan sejati. Jangan tinggal dalam kegelapan, seperti burung malam; bisa disantap engkau oleh raksasa, yaitu khayalanmu sendiri. Bangkitlah, carilah cahaya, tataplah ke arah matahari. Catatan: [1]  Berselingkuh,  istilah yang dipakai para Syaikh untuk menyebut mereka yang menyatakan dirinya pencari Tuhan tapi sebenarnya hanya mencari ciptaan-Nya. [2] Matahari,  al-Haqq. Sumber: Rumi:  Divan-i Syamsi Tabriz,  no 1378. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi’s Little Book of Life: The Garden of Soul, the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012.

Semua Tengah Bermohon

Kita semua bergantung sepenuhnya pada kemaha-kuasaan Sang Pencipta. Seluruh kuasa, seluruh kekayaan, semata milik-Nya; kita pengemis rudin. Lalu mengapa kita mendaku, lebih unggul satu sama lain? Bukankah kita semua sama, tengah bermohon di muka pintu istana-Nya? Sumber: A.J. Arberry, The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Mencermati Ketiadaan

Gambar
Semua yang mempesonamu,  pada wajah-wajah cantik, adalah Cahaya Sang Matahari  terpantul pada kaca prisma. Beragam corak kaca  membuat Cahaya tampil beraneka-warna. Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada, barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu. Bangunlah kebiasaan  menatap Cahaya tanpa prisma kaca, sehingga ketika prisma kaca itu remuk, tak lagi engkau buta. Selama ini engkau puas dengan pengetahuan yang kau dapat dari orang lain: matamu dapat memandang karena adanya cahaya lampu orang itu. Dia mengambil lampu itu, agar kau ketahui bahwa engkau seorang peminjam bukan pemberi yang murah hati. Jika semua pemberian itu telah engkau syukuri dengan sungguh-sungguh beramal, tak perlu kau tangisi kehilangan itu; karena Dia akan menggantinya seratus kali lipat. Tetapi jika selama ini kau tak pandai bersyukur, kini saatnya meneteskan air mata darah, karena keunggulan jiwa dihapuskan dari mereka yang tak bersyukur. Dia menghapus ...

Jadikan Anak Tangga

Ketika kau temui wajah kemarahan, lihatlah ke baliknya, dan akan kau dapati wajah bangga-diri. Injaklah marah dan bangga-diri, jadikan mereka anak-tangga, dan panjatlah, naik. Takkan pernah kau temui kedamaian, sampai engkau menjadi tuan mereka. Tanggalkan kemarahan: rasanya manis, tapi mematikan. Jangan mau jadi korbannya, kau perlukan kerendahan-hati untuk memanjat ke arah kemerdekaan. Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2197 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi,  dalam Rumi: Hidden Music, HarperCollins Publishers Ltd, 2001.

Sadarlah, Wahai Pejalan...

Jika engkau seorang pejalan yang sadar, berjalanlah di jalan ini layaknya lelaki; atau berhenti saja: jangan tinggalkan rumahmu, karena engkau belum siap berperang. [1] Para lelaki sejati meminum seribu lautan, dan masih merasa haus; [2] baru seteguk engkau diberi minum, tapi lagakmu bagaikan telah penuh. Engkau mendaku telah sampai tujuan, tebaran debu ocehanmu mengangkasa; [3] tapi tak bergerak engkau walau sejengkal, tiada sedikitpun engkau tinggalkan tanda. Berendah-hatilah layaknya debu, dibawah derap langkah para lelaki sejati; barulah akan bangkit engkau dan jadi bagian perjalanan mereka. Jika bertahun engkau merangkak, di jalan pencarianmu; jangan menyerah engkau pada kesedihan, jangan tunduk engkau pada guncangan. Catatan: [1] Bandingkan misalnya dengan “... keluarlah dari kampung halamanmu ...” (QS [4]: 66). [2] “Meminum,” diberi “pengalaman spiritual.” Para pencari sejati tak pernah hilang rasa hausnya walaupun mereka menerima bany...

Terbelenggu Rantai tak-Terlihat

Gambar
Tuhan membuat kemasyhuran begitu berat, bagaikan seratus kilogram besi, begitu banyak orang terikat rantai tak-terlihat. Bangga-diri dan suka-khianat menutup Jalan pertaubatan, sedemikian rupa, sehingga pengidapnya bahkan tak mampu mengutarakan penyesalan. "Sungguh Kami telah memasang pada leher-leher mereka  belenggu sampai ke dagu, maka mereka tengadah:"                                     [1] rantai itu tidak diikatkan kepada jasmani kita. "Dan Kami jadikan dari hadapan mereka dinding, dan dari belakang mereka dinding, lalu Kami tutupi mereka, maka mereka tidak dapat  melihat," dinding di hadapan dan di belakang mereka.                     [2] Dinding tegak itu tampil bagaikan padang terbuka, sang pendosa tak tahu itu adalah dinding ketetapan Ilahiah. Cinta duniawimu bagaikan dinding  yang ...