Postingan

Menampilkan postingan dengan label taman

Taman dalam Qalb

Gambar
  foto dari  DesktopNexus.com Hanya dalam kelapangan qalb, berisikan mata-air segar, yang di dalamnya terdapat berlapis-lapis taman mawar, keasyikan bersama-Nya dapat ditemukan. Sumber:. Rumi: Matsnavi III:   514 - 515. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi's Little Book of Life: The Garden of Soul. the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012.

Wahai Airmata yang Berlinang

Gambar
Wahai airmata yang berlinang, utarakanlah tentang cintaku  yang semakin berkembang: kepada taman itu, mata air itu, dan semua hal yang telah kusaksikan. Dan jika pada suatu malam, Kau ingat malam-malam itu: Tolong lupakanlah tentang  rendahnya adabku. Catatan: [1]    "Sesungguhnya al-mutaqiin itu didalam taman-taman dan mata-mata air. " (QS al-Hijr [15]: 45) [2]    Ini adab seorang arif billah, yang takut jika cintanya kepada ciptaan yang disediakan-Nya bagi orang yang bertakwa (taman dan mata-air surgawi) menghijabnya dari cinta kepada Sang Pencipta. Wallahu'alam. Sumber: Rumi: Rubaiyat #17 dari  Kolliyaat-e Shams-e Tabrizi Disunting oleh Badiozzaman Forouzanfar,  Teheran, Amir Kabir, 1988. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Zara Housmand Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.

Sebuah Do'a Pemberian-Mu

Gambar
Wahai  Rabb, sungguh Rahmat-Mu tercurah bukan karena amal kami, tapi karena limpahan-Mu yang penuh rahasia.         [1] Genggam lah ke dua tangan kami, selamatkan kami  dari apa-apa  yang ke dua tangan kami telah lakukan; angkat lah hijab kami kepada-Mu, dan jaga lah hijab kami  agar tak  robek, itu akan  mempermalukan kami.   [2] Selamatkan kami dari keakuan diri; tajamnya bagai ujung pisau yang menusuk ke tulang kami. Wahai Sang Raja, yang tak bermahkota, tak bertahta, siapa kah  yang  dapat lepaskan  rantai pengikat ini,                   [3] dari diri kami yang tak berdaya? Siapa kah yang se-Pemurah Engkau, wahai Maha Pengasih, yang dapat membebaskan kami dari penjara sekuat ini?            [4] Palingkan lah wajah kami dari menghadap ke diri sendiri menjadi menghadap  kepada-Mu; karena sesungguhnya Engka...

Sebuah Panggilan dari Semesta tak Kasat Mata

Seekor merpati, yang masih belajar terbang, mendadak membelah udara, melesat ke angkasa --ketika didengarnya sebuah siulan: sebuah panggilan dari semesta tak-kasat mata. Ketika Sang Kekasih, dambaan segenap semesta mengirimkan utusan yang berkata, "Kembali lah kepada-Ku," tak pelak lagi jiwa si murid langsung terbang. Tak mampu dia tahan lonjakan ke atas, ketika sayapnya diberi tarikan seperti itu; tak mampu dia cegah, ditembusnya hijab raga ketika datang pesan seperti itu. Sungguh mencengangkan, Rembulan yang menarik semua jiwa itu. Sungguh mencengangkan, Jalan rahasia, yang melaluinya, jiwa-jiwa itu dilintaskan. Kasih sayang Ilahiah berkirim pesan, "Kembali lah kemari, karena di dalam penjara sempit itu jiwamu berguncang gelisah. Tapi seperti di dalam rumah tanpa pintu, kau bagaikan burung tanpa sayap; kau yang seharusnya melayang di udara telah terjatuh begitu rendah. Akhirnya, kegelisahan membuka pintu welas-asih: terus kepakkan sayapm...

Alunan Musik Tersembunyi

Jangan lah kau cemas jika seutas dawai harpamu putus, karena akan muncul ribuan pengganti. Dalam genggaman jemari Cinta semuanya menjadi musik indah. Wahai kawanku, jika semua harpa dan seruling dunia terbakar, masih ada sebuah harpa tersembunyi. Nada dan iramanya melayang sampai ke surga, tapi tak sedikit pun terdengar oleh telinga yang tuli. Jangan lah kau khawatir jika semua lampu dan lilin dunia padam, karena batu-api sumbernya tetap terjaga. Musik yang kita dengar itu ibarat buih yang mengapung di permukaan samudera wujud, sementara sang mutiara tetap tersembunyi di kedalaman. Tapi kelembutan dalam musik bersumber dari mutiara tersembunyi itu-- karena pendar cahayanya juga menyinari kita. Alunan musik hanyalah suatu ranting dari kerinduan akan penyatuan-- dan tidak lah ranting dan akar setara. Karenanya, katupkan mulutmu, hentikan lah aliran kata-katamu; buka lah jendela hatimu: dan bercakap lah dengan jiwa-jiwa suci. Sumber: Rum...

Jebakan dengan Umpan Hasratmu Sendiri

Mengikuti hasratmu sendiri artinya melarikan diri dari Tuhan, dan menumpahkan darah ruhaniyah di hadirat Keadilan-Nya. Dunia ini sebuah jebakan dan hasratmu itu umpannya; hindari jebakan, hadapkan lah wajahmu kepada-Nya. Jika kau ikuti Jalan, ratusan keberkahan bersamamu; sedangkah jika kau menuju arah sebaliknya, buruk nasibmu. Karenanya, sang Nabi berkata, "dengarkan nuranimu walaupun para ahli agama menasehatimu untuk urusan duniamu." Tanggalkan hasratmu, agar terungkap Rahmat-Nya. Dari pengalamanmu sendiri jelas lah bahwa semua kebaikan menuntut pengorbanan. Karena kau tak mungkin menghindar dari dunia, jadi lah hamba-Nya; dan keluarlah dari penjara-Nya menuju taman-Nya. Ketika terus kau awasi pikiran dan tindakanmu, akan selalu kau saksikan Keadilan dan Sang Hakim; Walaupun kelalaian masih menutup pandanganmu tidaklah itu mencegah Sang Matahari bersinar. Sumber: Rumi:   Matsnavi   VI: 3777 - 3784. Terjemahan ke Bahasa Inggris ole...

Tingkatkan Pencarianmu

Gambar
Jika terus kau jaga harapanmu, yang merindu pada Langit, walau sampai gemetaran engkau bagai daun diterpa angin, maka air dan api  ruhaniyah  akan muncul, dan meningkatkan kesejatianmu. Tak diragukan lagi, rindumu itu yang kan membawamu sampai ke sana. Jangan hiraukan kelemahanmu, yang harus kau jaga itu kedalaman rindumu. Sesungguhnya pencarian ini adalah janji Tuhan dalam dirimu, karena setiap pencari layak dapatkan apa yang dicarinya. Tingkatkan pencarianmu, sampai  qalb -mu merdeka dari penjara --yaitu ragamu sendiri. Biarkan saja orang awam mengatakan, "sungguh malang nasibnya, dia telah mati," mereka tak mendengar jawabanmu, "sesungguhnya aku hidup, wahai orang lalai, Walaupun, seperti raga yang lain, tubuhku telah dikuburkan, ke delapan surga memekar dalam qalb-ku." Ketika jiwa bercengkerama di taman penuh berbagai bunga indah, tak perlu dirisaukan raga yang berkalang tanah. Bagi jiwa yang telah tersucikan, sama sekali tidak menjadi soal jika raganya dim...

Dihantarkan Perumpamaan

Manfaat perumpaan itu untuk menengahi, untuk mengantarkan pengertian. Tanpa sesuatu yang menengahi takkan ada yang berani masuk ke dalam api begitu saja, kecuali seekor salamander. Air hangat yang dipakai mandi adalah sebuah pengantar yang menengahi sehingga badanmu segar oleh panasnya api. Karena kau tak bisa langsung terjun ke dalam api, --seperti Ibrahim sang Khalilullah -- maka tempat mandi air-panas bagaikan utusan bagimu, dan air berperan sebagai pemandumu. Rasa puas itu dari  al-Haqq, tapi agar mereka yang masih penuh dosa dapat mencicipi rasa puas, diperlukan pengantar berupa makanan. Keindahan itu dari  al-Haqq, tapi mereka yang daya inderanya hanya jasmaniah takkan merasakan pesona keindahan tanpa ditengahi penghantar berupa Taman Surga. Ketika penengah jasmaniah diangkat, maka ia yang diangkat itu memahami tanpa hijab, bagaikan Musa, cahaya seterang rembulan memancar dari dadanya. Penyaksian itu bagaikan kebajikan yang disanda...

Pintu-pintu Menuju Taman-Mu

Gambar
Wahai Kekasih, manakah yang lebih mempesona, Wajah-Mu atau al-Jannah -Mu ini,  yang begini luas. Bercahayalah, wahai rembulanku, Engkaulah inspirasi, bagi semua yang menatap langit malam. Yang asam akan berubah jadi manis. Prasangka diganti dengan Kebenaran. Gerumbul duri diubah jadi mekar bunga. Seratus tubuh akan bangkit hidup kembali, dengan satu hembusan-Mu. Kau taruh pintu demi pintu di langit Kau taruh harapan dalam hati insan. Kau cekam setiap kecerdasan, Kau buat ke dua alam terpesona pada-Mu. Wahai Kekasih, pipimu memerah, bagai mawar. Wahai Kekasih, Engkaulah pujaan alam ini, dan alam berikutnya, dan alam-alam berikutnya. Kelopak-kelopak jagung, berupaya keras, mencoba meniru satu warna-Mu. Semua jenis kebenaran lebur jadi satu dibawah injakan kaki-Mu. Seluruh nada laguku rindu menggemakan merdunya suara-Mu. Tanpa Engkau, pasar dan perniagaan sepi. Taman dan kebun longsor tersapu air bah. Kau ajari pohon menari seiring t...

Tuan Rumah

Para penempuh Jalan,  dimana kalian? Kekasih Tercinta ada disini!                   [1] Dambaanmu tinggal di ruang sebelah. Sejak awal bertetangga!                          [2] Mengapa engkau berkelana kesana kemari, menjelajah gurun? Jika tatapanmu menuju   ke Wajah Yang Tercinta,                         [3] dan tak hanya ke bentuk permukaan, maka dirimu lah yang menjadi rumah  bagi Rabb: engkau lah tuan rumah bagi-Nya. Berkali-kali kau tempuh jalan menuju rumah itu. Kali ini, masuklah ke dalam, panjatlah atapnya. Rumah indah yang suci yang ciri-cirinya telah kau paparkan dengan rinci. Kini tunjukkanlah padaku ciri-ciri rumah Rabb . Jika telah kau kunjungi Taman itu, mana oleh-oleh rangkaian bunga dari sana? Jika kau telah sampai Laut-nya Rabb, mana mutiara indah, ...

Dikembalikan ke Serendah-rendah Keadaan

Gambar
Keindahan, yang diwarisi manusia dari Adam, yang kepadanya para malaikat bersujud, segera luruh, bagaikan jatuhnya Adam dari  al-Jannah . Keindahan menjerit: "Mengapa? Setelah aku cemerlang, kini memburam?" Dia menjawab: "Salahmu adalah karena engkau hidup terlalu lama." Jibril menyeretnya, seraya berkata: "Pergilah dari al-Jannah ini, enyahlah engkau dari majelis indah ini." Ia bertanya: "Apa gerangan maksud dari direndahkan setelah aku sebelumnya dimuliakan?"            [1] Jibril menjawab: "Dimuliakannya engkau adalah sebuah pemberian dari-Nya, sedangkan rendahnya engkau kini adalah penghakiman-Nya atas nilai sebenarnya dirimu." Ia menjerit: "Wahai Jibril, bukankah telah bersujud  engkau,   [2] sebelumnya, dengan sepenuh dirimu, mengapa sekarang kau usir aku dari al-Jannah?" "Jubahku tanggal,                                     ...

Mengkaji Cahaya di atas Cahaya

Sang Musthafa bertutur tentang permohonan Neraka, ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati: "berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku." Jadi, terang cahaya   al-Mukmin   berarti padamnya api, karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna. Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya, karena api bersumber dari Murka-Nya, sementara cahaya dari Rahmat-Nya. Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan, tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api. Mereka yang bertakwa dengan   haqq memancarkan aliran air rahmat itu: inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan. Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi lari menjauh dari orang seperti mereka, karena engkau tersusun dari api, sementara mereka dari aliran air. Api melarikan diri dari air, karena takut nyala dan asapnya dipadamkan oleh air. Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api; pikiran dan perasaan orang suci t...

Tongkat Musa

Gambar
Pernah kuberada di taman-Mu, di bawah pohon, yang kabulkan semua keinginan. Sepenuh diriku terbakar, sehingga ku menari tanpa musik. Kini aku sesosok bayangan, kumenari seiring cahaya Matahari: kadang kuberbaring di tanah, kadang kuberdiri-terbalik, di atas kepalaku; kadang aku memanjang, kadang aku memendek. Bagai gerakan cahaya dan bayangan, melintas permukaan bumi, kujelajahi zaman. Aku lah pangeran Mesir, dan pemandu Bangsa Israil. Bagi para ulama, aku lah sang Pembawa Sabda. Terkadang aku jadi Kalam. Terkadang aku jadi tongkat di tangan Musa. Terkadang aku jadi naga, membelah jalanku menerobos gurun. Jangan pernah cari Cinta, dengan bersandar pada tongkat-kayu fikiran; guna tongkat-kayu itu, hanya untuk memandu jalan orang buta. Yang kudamba hanyalah isyarat-Mu: satu anggukan dari-Mu, maka jiwaku kan bebas. Tidaklah dari sini kuberasal, aku pengelana yang singgah sejenak. Tersaruk berjalan, buta, tak tentu arah. Mendamba uluran tangan-Mu, membimbingku, melangkah. Sumbe...

Lintasilah ke Dua Alam

Setiap saat, dari berbagai arah, himbauan Sang Kekasih menyerumu. Ke al-Jannah seyogyanya kita menuju: tak elok jika ke alam-dunia ini hanya untuk berjalan-jalan. Pernah kita disana, bersobat dengan para malaikat. Karenanya, wahai pejalan, mari kita kembali kesana, itulah tempat kita yang sebenarnya. Bahkan semestinya, lebih tinggi daripada Taman itu; hakikinya, insan sejati itu lebih tinggi daripada malaikat. Mengapa ke dua alam ini                                       1) tak segera kita lintasi saja? Tujuan kita adalah keagungan puncak. Sungguh berbeda sumbernya: alam tanah-liat ini, dengan inti cahaya insan. Memang dulu kita telah diperintahkan turun,     2) kini mari kita bergegas naik, mengapa berlama-lama disini. Segarnya keberuntungan adalah sahabat kita: berserah-diri adalah keahlian kita. Pemandu kafilah kita adalah Mushthafa: kecintaan alam semesta. Manis-harumnya hemb...