Postingan

Menampilkan postingan dengan label bangga

Mengapa Berbangga Diri dan Angkuh?

Gambar
  Mengapa berbangga-diri dan angkuh? Takan bisa engkau memikat matahari dengan berselingkuh. Berhentilah berjalan dalam bayanganmu sendiri, berkubang dalam pikiranmu yang dungu. Angkat kepalamu, tataplah ke arah matahari, menjelajahlah diantara bebungaan, jadilah insan sejati. Jangan tinggal dalam kegelapan, seperti burung malam; bisa disantap engkau oleh raksasa, yaitu khayalanmu sendiri. Bangkitlah, carilah cahaya, tataplah ke arah matahari. Catatan: [1]  Berselingkuh,  istilah yang dipakai para Syaikh untuk menyebut mereka yang menyatakan dirinya pencari Tuhan tapi sebenarnya hanya mencari ciptaan-Nya. [2] Matahari,  al-Haqq. Sumber: Rumi:  Divan-i Syamsi Tabriz,  no 1378. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi’s Little Book of Life: The Garden of Soul, the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012.

Jadikan Anak Tangga

Ketika kau temui wajah kemarahan, lihatlah ke baliknya, dan akan kau dapati wajah bangga-diri. Injaklah marah dan bangga-diri, jadikan mereka anak-tangga, dan panjatlah, naik. Takkan pernah kau temui kedamaian, sampai engkau menjadi tuan mereka. Tanggalkan kemarahan: rasanya manis, tapi mematikan. Jangan mau jadi korbannya, kau perlukan kerendahan-hati untuk memanjat ke arah kemerdekaan. Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2197 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi,  dalam Rumi: Hidden Music, HarperCollins Publishers Ltd, 2001.

Terbelenggu Rantai tak-Terlihat

Gambar
Tuhan membuat kemasyhuran begitu berat, bagaikan seratus kilogram besi, begitu banyak orang terikat rantai tak-terlihat. Bangga-diri dan suka-khianat menutup Jalan pertaubatan, sedemikian rupa, sehingga pengidapnya bahkan tak mampu mengutarakan penyesalan. "Sungguh Kami telah memasang pada leher-leher mereka  belenggu sampai ke dagu, maka mereka tengadah:"                                     [1] rantai itu tidak diikatkan kepada jasmani kita. "Dan Kami jadikan dari hadapan mereka dinding, dan dari belakang mereka dinding, lalu Kami tutupi mereka, maka mereka tidak dapat  melihat," dinding di hadapan dan di belakang mereka.                     [2] Dinding tegak itu tampil bagaikan padang terbuka, sang pendosa tak tahu itu adalah dinding ketetapan Ilahiah. Cinta duniawimu bagaikan dinding  yang ...