Postingan

Menampilkan postingan dengan label cadar

Bernyala Tanpa Bayangan

Ketika melalui kefakiran ruhaniyah seseorang dirahmati dengan kematian dari dirinya sendiri, meneladan sang Nabi saw; dia kehilangan bayangannya. Menjadi  fana,  sesuai sabda sang Nabi, "kefakiran adalah kebanggaanku." Dia jadi tak memiliki bayangan, bagaikan nyala sebatang lilin. Ketika lilin telah seluruhnya menyala dari kepala sampai ke kaki, bayangan tak dapat menghampirinya. Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri dan dari bayangannya menuju terang benderang, demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya. Ketika kepadanya Tuhan berkata, "Kubentuk engkau agar fana;" dia menjawab,  "Karenanya aku berlindung didalam fana." Catatan: Fana:  secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah Rabb, lihat QS [55]: 26 - 27. Sumber: Rumi:   Matsnavi   V: 672 - 676 Berdasarkan terjemahan Camille dan Kabir Helminski, dalam  Rumi: Jewels of Rememberance, Threshold Books, 1996; berdasarkan terjemahan ...

Alunan Musik Tersembunyi

Jangan lah kau cemas jika seutas dawai harpamu putus, karena akan muncul ribuan pengganti. Dalam genggaman jemari Cinta semuanya menjadi musik indah. Wahai kawanku, jika semua harpa dan seruling dunia terbakar, masih ada sebuah harpa tersembunyi. Nada dan iramanya melayang sampai ke surga, tapi tak sedikit pun terdengar oleh telinga yang tuli. Jangan lah kau khawatir jika semua lampu dan lilin dunia padam, karena batu-api sumbernya tetap terjaga. Musik yang kita dengar itu ibarat buih yang mengapung di permukaan samudera wujud, sementara sang mutiara tetap tersembunyi di kedalaman. Tapi kelembutan dalam musik bersumber dari mutiara tersembunyi itu-- karena pendar cahayanya juga menyinari kita. Alunan musik hanyalah suatu ranting dari kerinduan akan penyatuan-- dan tidak lah ranting dan akar setara. Karenanya, katupkan mulutmu, hentikan lah aliran kata-katamu; buka lah jendela hatimu: dan bercakap lah dengan jiwa-jiwa suci. Sumber: Rum...

Dengarkan lah, ke Arah Mana Ia Berayun

Terpuji lah yang Maha Suci, sang Pencipta yang Gaib: dibangunnya istana Sabda. Ketahuilah, sabda itu bagaikan suara pintu yang terdengar dari istana rahasia; coba lah untuk mencermati, apakah itu suara pintu yang tengah membuka atau menutup. Suara pintunya dapat didengar tapi pintunya sendiri tak tampak: kau dengar suara pintu itu tapi pintunya sendiri tak terlihat. Ketika alunan nada dari harpa kebijaksanaan mulai terdengar berdenting, cermati baik-baik: ke arah mana Pintu Surga tengah berayun. Karena letakmu jauh dari pintu itu, dengarkan lah suaranya dengan penuh perhatian. Sumber: Rumi: Matsnavi  VI: 3481 - 3485 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski, dalam Rumi; Jewels of Rememberance Threshold Books, 1996 berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Cadar Raga

Janganlah kau bosan bersamaku, sungguh aku seorang saksi yang indah. Sang Maha Pencemburu telah sembunyikanku di balik sebuah cadar. Pada hari kutanggalkan cadar raga ini, akan kau saksikan bagaimana cemburunya rembulan dan bintang-bintang padaku. Basuhlah wajahmu dan murnikan dirimu sehingga kau bisa saksikan aku. Atau menjauhlah engkau dariku, karena aku adalah saksi bagi diriku sendiri. Aku bukanlah saksi yang esok akan pikun atau bungkuk karena tua. Aku kan selalu muda, menyegarkan, dan sedap dipandang. Jika cadar raga ini melapuk, sang saksi takkan beranjak menua; masa pakai cadar kan berakhir, tapi kami selamanya hidup. Ketika Iblis melihat cadar raga Adam, dia menolaknya. Adam berkata padanya, "Engkaulah yang tertolak, bukan aku." Sementara para malaikat bersujud dan berkata, "Kami telah temukan seorang saksi. Dibalik cadarnya terdapat sesosok pujaan yang sifat-sifatnya mempesona akal kami, maka kami bersujud padanya. Jika ke...