Postingan

Menampilkan postingan dengan label cermin

Seandainya Sempat Kau Kenali

Gambar
Seandainya sempat kau kenali dirimu sendiri, walau sekejap. Seandainya sempat kau tatap --walau sekilas-- keindahan wajah sejatimu sendiri. Maka takkan lagi kau tertidur didalam campuran lempung dan air ini, bagaikan seekor hewan; kau kan bertolak ke rumah kebahagiaan bersama jiwa-jiwa nan indah. Kau harus telusuri jalan sampai ke sudut-sudut terjauh dirimu sendiri, agar diri sejatimu terejawantahkan; karena Khazanah Tersembunyi masih tersimpan di dalam dirimu. Seandainya engkau hanya terdiri atas sesosok tubuh, maka takkan pernah kau dengar kabar mengenai jiwa seandainya engkau hanya jiwa saja maka engkau sudah dalam kebahagiaan bersama dirimu sendiri. Seperti orang lain kau berhadapan dengan kebaikan dan kejahatan; kau hadapi semua itu  dengan apa yang ada pada dirimu. Seandainya engkau itu suatu jenis sayuran, maka kau miliki suatu cita-rasa khas; seandainya engkau itu sebuah periuk maka ada panas yang pas  untuk membuatmu men...

Bernyala Tanpa Bayangan

Ketika melalui kefakiran ruhaniyah seseorang dirahmati dengan kematian dari dirinya sendiri, meneladan sang Nabi saw; dia kehilangan bayangannya. Menjadi  fana,  sesuai sabda sang Nabi, "kefakiran adalah kebanggaanku." Dia jadi tak memiliki bayangan, bagaikan nyala sebatang lilin. Ketika lilin telah seluruhnya menyala dari kepala sampai ke kaki, bayangan tak dapat menghampirinya. Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri dan dari bayangannya menuju terang benderang, demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya. Ketika kepadanya Tuhan berkata, "Kubentuk engkau agar fana;" dia menjawab,  "Karenanya aku berlindung didalam fana." Catatan: Fana:  secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah Rabb, lihat QS [55]: 26 - 27. Sumber: Rumi:   Matsnavi   V: 672 - 676 Berdasarkan terjemahan Camille dan Kabir Helminski, dalam  Rumi: Jewels of Rememberance, Threshold Books, 1996; berdasarkan terjemahan ...

Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan

Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia, sang Maha Pengampun, untuk memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya. Tetapi takkan sesuatu dikenali kecuali jika ada lawannya, dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan. Maka diangkatnya seorang khalifah, seorang insan pemilik  qalb, agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya. Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga, dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya, yang berasal dari kegelapan. Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam: yang pertama Adam; dan lainya  Syaithan,  sang penghalang jalan menuju kepada-Nya.                        [1] Diantara ke dua kubu ini, berlangsung pertentangan dan perang; dan melalui hal-hal itu terjadilah apa-apa yang harus terjadi. Demikianlah, pada generasi berikutnya tampillah Habil; sedangkan saudaranya, Khabil, menentang cahaya murninya.         ...

Mereka yang Merendahkan Pandangannya

Pengalaman  ruhaniyah  itu bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya, mereka tak menampakkan diri kecuali kepada pemiliknya.    [1] Anggur  yang membawa kepada pengalaman itu,    [2] bagaikan  para bidadari yang merendahkan pandangannya, sementara wahana-wahana yang menghijabnya dari penglihatan bagaikan  tenda-tenda     [1] Sungai-besar itu bagaikan tenda,    [3] di dalamnya terdapat kehidupan bagi unggas-air,  dan kematian bagi burung gagak. Racun itu bagai gula-gula bagi ular tapi penderitaan dan kematian bagi yang lain. Bentuk dari setiap keberuntungan dan bencana itu bagaikan surga bagi seseorang atau neraka bagi orang lain. Karena itu, sungguhpun kau tatap berbagai bentuk dan benda, dan terdapat hidangan atau racun di dalam semua ciptaan itu-- kau tidak melihatnya. Setiap orang itu bagaikan cangkir atau cawan, di dalamnya terdapat makanan bergizi dan hal yang membawa terbakarnya...

Mengenakan Cinta

Suatu jiwa yang tak mengenakan Cinta pantas malu akan keberadaannya sendiri. Mabuklah dengan Cinta karena semua yang meng-ada itu perwujudan Cinta. Tanpa memberi dan menerima Cinta tak akan  Sang Kekasih menerimamu. Mereka bertanya, "Apakah itu yang disebut Cinta?" Jawablah, "Menanggalkan kehendak bebas." Orang yang bersandar pada kehendak-bebas, terikat kepadanya. Sang pencinta sejati bersikap layaknya dia seorang raja: ke dua semesta berserakan di sekitarnya tapi tak diperdulikannya sedikit pun. Hanya Sang Kekasih dan pencinta-Nya yang bertahan, tak kenal akhir. Jangan tetapkan hatimu pada sesuatu yang lain; yang lain-lain itu hanya wujud pinjaman. Sampai kapan engkau betah memeluk kekasih yang mati. Peluklah yang Maha Hidup, yang tak mungkin terliputi oleh sesuatu pun. Semua tanaman yang berkembang di musim semi akan luruh di musim gugur; tapi kebun mawar Sang Kekasih tak bergantung pada tibanya musim semi. Duri ikut berkembang bers...

Terjerat Kerumitan

Kita kecanduan diskusi rumit, dan gemar mengatasi masalah. Bolak-balik kita membuat simpul lalu mengurainya kembali. Terus menerus kita membuat aturan tentang cara menampilkan kesulitan, dan untuk menjawab aneka pertanyaan yang diajukan. Kita seperti burung yang melonggarkan jerat lalu mengencangkannya kembali dalam rangka meningkatkan ketrampilan. Sehingga hilang kesempatan terbang jelajahi medan terbuka; sehingga hilang kesempatan kunjungi padang rumput, habis umur sibuk dengan simpul. Tetap saja buhul-jerat tak terkuasai, walau sayap burung berkali-kali patah. Simpul-jerat tak untuk dilawan, jaga agar sayapmu tak patah. Jangan rusak bulu pelindungmu hanya sekedar untuk tunjukkan pada dunia, betapa hebatnya usahamu. Sumber: Rumi:   Matsnavi   II: 3733 - 3738 versi  Camille  dan  Kabir Helminski dalam  Rumi: Daylight,  Threshold Books, 1994 Transliterasi dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra .

Engkaulah ...

Gambar
Sejak kumulai berjalan, Engkau lah tujuan, Engkau lah pemandu. Ketika kucari hatiku, Engkau lah yang meremukkannya. Ketika kucari kedamaian, Engkau lah yang mengayomi. Ketika kupergi berjihad, Engkau lah pedangku. Ketika kubelajar lebur, Engkau lah anggur dan manisan. Ketika kudatangi taman itu, Engkau lah sang narsisus memekar. Ketika kusampai ke tambang itu, Engkau lah sang merah delima. Ketika kuselami samudera, Engkau lah mutiara di dasar. Ketika kulintasi gurun, Engkau lah oase. Ketika aku mengangkasa, Engkau lah bintang paling terang. Ketika kutegak dengan berani, Engkau lah perisaiku. Ketika kupingsan kebingungan, Engkau lah wewangian yang menyadarkan. Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkau lah sang panglima pasukan. Ketika kutiba di perjamuan, Engkau lah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir. Ketika kumenulis, Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta. Ketika kuterjaga, Engkau lah kesadaranku. Ketika kutertidur, Kau masuki mimpik...

Mencermati Ketiadaan

Gambar
Semua yang mempesonamu,  pada wajah-wajah cantik, adalah Cahaya Sang Matahari  terpantul pada kaca prisma. Beragam corak kaca  membuat Cahaya tampil beraneka-warna. Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada, barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu. Bangunlah kebiasaan  menatap Cahaya tanpa prisma kaca, sehingga ketika prisma kaca itu remuk, tak lagi engkau buta. Selama ini engkau puas dengan pengetahuan yang kau dapat dari orang lain: matamu dapat memandang karena adanya cahaya lampu orang itu. Dia mengambil lampu itu, agar kau ketahui bahwa engkau seorang peminjam bukan pemberi yang murah hati. Jika semua pemberian itu telah engkau syukuri dengan sungguh-sungguh beramal, tak perlu kau tangisi kehilangan itu; karena Dia akan menggantinya seratus kali lipat. Tetapi jika selama ini kau tak pandai bersyukur, kini saatnya meneteskan air mata darah, karena keunggulan jiwa dihapuskan dari mereka yang tak bersyukur. Dia menghapus ...

Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash

Gambar
Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia, Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit. Karena benda-benda terinderai itu letaknya di alam bawah. Cahaya Tuhan itu bagaikan laut, sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya. Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak, yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata. Cahaya inderawi, yang kasar dan berat, tersembunyi pada hitamnya mata. Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi, bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian? Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi, apalagi apa yang ada dibaliknya, yang lebih murni dan halus? Alam-dunia ini bagaikan jerami, dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak; ia hanya dapat menyerahkan diri, tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak. Kadang ia dibuat merunduk, kadang menengadah; kadang bersuara, kadang utuh, kadang terpecah. Kadang ia digerakkan ke kiri, kadang ke kanan; kadang darinya tumbuh duri, kadang menyembul mawar. Per...

Mari Kita Berangkat

Wahai para pencinta, bangkitlah! [1] Saatnya kita terbang ke langit, cukup sudah kita tinggal di alam ini, saatnya bertolak ke sana. Sungguhpun indah sangat ke dua taman ini, [2] kita lewati saja, bergerak menuju ke Sang Tukang Kebun. Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut, [3] layaknya arus deras, mari kita tunggang gelombang, melaju di permukaan sang Laut. Mari kita berangkat, dari pemukiman penuh kesedihan ini, [4] menuju pesta pernikahan; mari ubah wajah kita, dari pucat-pasi, menjadi segar merona. Hati kita keras berdegup, gemetar bagai daun dan ranting kecil yang takut jatuh tercampak; [5] mari mencari suaka di Wilayah Terlindung. Tak mungkin mengelak dari kesakitan, selama kita dalam pengungsian, [6] tak mungkin mengelak dari debu, selama kita tinggal di padang pasir. Bagai burung surgawi bersayap hijau, dan berparuh tajam, [7] mari kita jadi pengumpul gula, bercengkerama di kebun tebu. Terkurung kita oleh bentuk-bentuk, ci...

Khazanah Tersembunyi

Gambar
"Wahai Rabb," Nabi Dawud as, bertanya, "Karena Engkau sedikitpun tidak membutuhkan kami, maka jelaskanlah mengapa Engkau ciptakan ke dua alam?"   [1] Rabb menjawab, "Wahai insan, Aku adalah sebuah khazanah tersembunyi,   Ku-cinta jika khazanah kasih-sayang dan kepemurahan diungkapkan.   [2] Kutampilkan sebuah cermin: bagian mukanya adalah qalb, bagian belakangnya adalah alam dunia; Jika bagian mukanya tak engkau ketahui, maka bagian belakangnya tampak lebih baik."   [3] Jika jerami masih bercampur dengan tanah-liat, bagaimana mungkin cermin dapat berfungsi. Ketika engkau pisahkan jerami dari tanah-liat, cermin menjadi jernih. Buah-anggur tidak berubah menjadi minuman, seandainya tidak diragikan di dalam guci; Jika ingin qalb-mu tumbuh cemerlang, perlu engkau lakukan sedikit upaya. Kepada jiwa yang keluar dari tubuh, berkata Sang Raja: "Engkau datang sebagaimana eng...