Postingan

Menampilkan postingan dengan label lampu

Di Lembah Cinta

Tengah malam, aku bertanya,  siapa ini yang ada di dalam rumah qalb-ku? Dia menjawab,  Inilah Aku, yang cemerlangnya membuat matahari dan rembulan jadi tertunduk malu. Dia bertanya,  Mengapa rumah ini penuh dengan aneka macam lukisan? Aku menjawab, Ini semua adalah bayangan dari-Mu, wahai Engkau yang wajah-Mu membuat iri warga Chigil.                               [1] Dia bertanya,  Dan apa ini: qalb yang berdarah-darah? Aku menjawab, Ini adalah gambaran diriku: hati terluka, dan kaki dalam lumpur. Kuikat leher dari jiwaku, dan menyeretnya kehadapan-Nya sebagai persembahan: Inilah dia yang telah berkali-kali memunggungi Cinta, kali ini jangalah Kau lepaskan. Dia serahkan satu ujung tali, ujung yang penuh kecurangan dan pengkhianatan, Peganglah ujung yang ini, Aku kan menghela dari ujung yang lain, mari berharap tali ini tidak putus. Kuraih tangan-Nya, Dia men...

Kembalilah ke Langit

Setiap saat, sebuah seruan dari langit menyapa inti jiwa sang lelaki pencari: Sampai kapan engkau melekat ke bumi, seperti buih. Naiklah ke langit! Mereka yang jiwanya berat tetap lekat menempel bagai buih; hanya jika termurnikan ia dapat mengalir ke atas. Jika kau tak terus-menerus mengaduk tanah-liatmu, airmu akan perlahan menjernih, dan buihmu tercahayai, maka sakitmu terobati. Seperti obor, hanya lebih banyak asapnya daripada apinya, asapnya menyebar kesana kemari, sehingga ruang di dalam jasmani, tempat jiwa terpenjara, tak lagi bersinar. Jika kau hilangkan asapnya kau dapat nikmati kembali nyala api obor; tempatmu di semesta ini dan semesta-semesta mendatang akan terterangi oleh cahayamu itu. Jika kau menatap pada air keruh, tak kelihatan disitu rembulan atau langit; matahari dan rembulan menghilang ketika kegelapan menyelimuti udara. Dari utara angin bertiup menyibak udara hingga jernih; datangnya pada fajar hari, usapannya melapang...

Mencermati Ketiadaan

Gambar
Semua yang mempesonamu,  pada wajah-wajah cantik, adalah Cahaya Sang Matahari  terpantul pada kaca prisma. Beragam corak kaca  membuat Cahaya tampil beraneka-warna. Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada, barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu. Bangunlah kebiasaan  menatap Cahaya tanpa prisma kaca, sehingga ketika prisma kaca itu remuk, tak lagi engkau buta. Selama ini engkau puas dengan pengetahuan yang kau dapat dari orang lain: matamu dapat memandang karena adanya cahaya lampu orang itu. Dia mengambil lampu itu, agar kau ketahui bahwa engkau seorang peminjam bukan pemberi yang murah hati. Jika semua pemberian itu telah engkau syukuri dengan sungguh-sungguh beramal, tak perlu kau tangisi kehilangan itu; karena Dia akan menggantinya seratus kali lipat. Tetapi jika selama ini kau tak pandai bersyukur, kini saatnya meneteskan air mata darah, karena keunggulan jiwa dihapuskan dari mereka yang tak bersyukur. Dia menghapus ...

Perbedaan Pendapat tentang Bentuk Gajah

Disebutnya nama Musa,  telah menjadi sebuah rantai yang membelenggu  pikiran para pembacaku,  mereka pikir ini adalah  cerita-cerita  yang terjadi dahulu kala. Disebutkannya Musa hanya berfungsi sebagai topeng,  tetapi cahaya Musa adalah persoalan mutakhir,  wahai sahabatku. Musa dan Fir’aun itu di dalam dirimu: engkau mesti mencari pihak-pihak yang berlawanan ini di dalam dirimu-sendiri. Pembangkitan Musa akan terus berlangsung sampai  Hari Kebangkitan: Cahaya itu tidak berbeda,  walaupun lampunya berlain-lainan. Lampu dari tanah ini berbeda dengan sumbu itu, tetapi cahaya mereka tidak berbeda: ia dari Alam Sana. Jika engkau terus memandang kaca lampu,  engkau akan bingung, karena dari kaca munculah sejumlah  keragaman. Tetapi jika pandanganmu tetap kepada Cahaya, engkau akan terbebas dari keragaman dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas. Dari tempat yang menjadi obyek pandangan,...