Postingan

Menampilkan postingan dengan label kematian

Cinta yang Menghidupkan

Gambar
Cinta pada yang mati takkan abadi, karena yang mati takkan kembali. Tetapi cinta pada yang hidup di setiap saatnya lebih segar,  daripada sekuntum bunga: baik bagi mata batiniah maupun mata lahiriah. Pilihlah cinta dari Yang Maha Hidup, yang Abadi,  yang memberimu khamr: yang meningkatkan kehidupanmu. Pilihlah cinta dari-Nya; dari cinta-Nyalah, semua nabi memperoleh  kekuatan dan kemenangan. Jangan kau katakan, "Sang Raja tak mampu kita jangkau." Berurusan dengan yang Maha Pemurah sama sekali tidak sulit. Sumber: Rumi: Matnavi I:  217 - 221 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Jika Tumbuh Gandum di Makamku

Gambar
Jika tumbuh gandum di makamku, dan darinya kau bakar roti, maka kan meningkat mabukmu. Adonan beserta pembuat rotinya akan jadi seperti gila; ovennya akan lantunkan puisi bagai seorang pemabuk. Jika kau ziarahi kuburku, batu nisanku akan mengajakmu menari, jadi bawalah serta gendangmu. Janganlah kau bersedih. Kau tengah diundang ke meja perjamuan Tuhan. Bahkan kematian tak mampu cegah dambaku akan kecupan manis Sang Kekasih. Jika kau robek kain kafanku lalu kau kenakan sebagai baju, maka gerbang akan terbuka dan akan kau dengar musik, yang berasal dari jiwamu,  memenuhi semesta. Aku diciptakan dari asyik-masyuknya cinta dan ketika ku wafat maka inti-sari diriku akan terbebaskan bagaikan wanginya mawar ketika kelopaknya diremas. Jiwaku segera melambung dan bergabung dengan tegak-melangitnya jiwa Syams at-Tabriz. Sumber: Rumi: Divan-ii Syamsi Tabriz, ghazal #683 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Az...

Setiap Saat Beranjak

Gambar
Dari atas perahu yang meluncur cepat, mengikuti aliran deras ke hilir, persepsi kita menampak semak di tepi sungai melesat ke belakang. Demikianlah, pada setiap saat, kita beranjak tinggalkan dunia ini; tapi tampak bagi kita dunia lah yang bergerak cepat. Sumber: Rumi: Rubaiyat, nomor belum ditemukan. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry, dalam "Rubaiyat of Jalal al-Din Rumi," 1949.

Merdeka Ketika Berserah Diri

Semula ingin kuceritakan padamu kisah hidupku, tetapi gelombang kepedihan tenggelamkan suaraku. Kucoba utarakan sesuatu, tetapi pikiranku rawan dan remuk, laksana kaca. Bahkan kapal paling megah bisa karam dalam gelombang-badai Laut Cinta apalagi biduk rapuhku, remuk berkeping-keping: tinggalkan ku sendiri, hanyut, hanya berpegangan ke sepotong papan. Kecil dan tak berdaya timbul tenggelam dalam terpaan ombak, sampai tak kuketahui apakah aku ada atau tiada. Ketika menurutku aku ada, kudapati diriku tak berharga. Saat ku tiada, kudapati nilai-nilai sejati diriku. Seturut pasang-surut akalku, tiap hari mati aku, dan dihidupkan lagi; karenanya tak kuragukan sedikit pun adanya Hari Kebangkitan. Ketika telah lelah, ku berburu cinta di alam dunia ini, akhirnya di Lembah Cinta ku berserah-diri: dan aku merdeka. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 1419. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi, da...

Tingkatkan Pencarianmu

Gambar
Jika terus kau jaga harapanmu, yang merindu pada Langit, walau sampai gemetaran engkau bagai daun diterpa angin, maka air dan api  ruhaniyah  akan muncul, dan meningkatkan kesejatianmu. Tak diragukan lagi, rindumu itu yang kan membawamu sampai ke sana. Jangan hiraukan kelemahanmu, yang harus kau jaga itu kedalaman rindumu. Sesungguhnya pencarian ini adalah janji Tuhan dalam dirimu, karena setiap pencari layak dapatkan apa yang dicarinya. Tingkatkan pencarianmu, sampai  qalb -mu merdeka dari penjara --yaitu ragamu sendiri. Biarkan saja orang awam mengatakan, "sungguh malang nasibnya, dia telah mati," mereka tak mendengar jawabanmu, "sesungguhnya aku hidup, wahai orang lalai, Walaupun, seperti raga yang lain, tubuhku telah dikuburkan, ke delapan surga memekar dalam qalb-ku." Ketika jiwa bercengkerama di taman penuh berbagai bunga indah, tak perlu dirisaukan raga yang berkalang tanah. Bagi jiwa yang telah tersucikan, sama sekali tidak menjadi soal jika raganya dim...

Wafatnya Seorang Suci

Jiwamu kan terbang, melesat tinggalkan penjara sempit, menembus langit demi langit, kau masuki suatu kehidupan baru, tinggalkan hidup yang ini; takkan pernah lagi kau merasa bosan. Jika sebelumnya kau kenakan raga yang bagaikan seragam seorang hamba-sahaya, kini kau tampil sangat bergaya. Bagimu kematian adalah kehidupan; --yang jika dibandingkan dengannya-- kehidupan ini bagaikan kematian; mereka yang terhijab takkan paham. Semua jiwa yang tinggalkan raga, tetaplah hidup, namun tersembunyi; jiwa yang tersucikan itu indah, bagaikan malaikat. Ketika raga menua dan ambruk, janganlah engkau meratap. Sadarilah, selama ini engkau terpenjara: ketika kau temukan jalan untuk lolos, dari sel di dasar sumur, engkau tegak, gagah dan ningrat, bagaikan seorang Jusuf. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 3172 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Franklin D. Lewis, dalam  Rumi, Past and Present, East and West, Oneworld Publications, Oxford, 2000. ...

Kau kan Mati Sendirian

Telah kau cari Hidup Sejati ke seluruh dunia, tapi kau kan mati di  dalam hatimu sendiri . Kau terlahir dalam pelukan yang penuh rahmat, tapi kau kan mati sendirian. Kau tertidur di tepi sebuah danau, sambil merasa haus. Kau duduki harta karun, tapi kau kan mati dalam kefakiran. Sumber: Rumi: Rubaiyat,  F#1601 Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star Berdasarkan terjemahan literal oleh Shahram Shiva. Dari In the Arms of the Beloved, hal 133.

Sang Khalilullah Menyembelih Gagak, Unggas ke Tiga Pengganggu Perjalanan

Wahai pejalan, mengapa gagak dalam dirimu perlu disembelih? Karena Perintah Ilahiah! Ada hikmah apakah dibalik Perintah itu? Mari kuperlihatkan sedikit. Gaduhnya suara gagak hitam berkaok itu permintaa terus menerus agar diberi umur panjang di alam dunia ini. Bagaikan iblis, gagak meminta-minta kepada Tuhan Yang Maha Suci  dan tak-Terbandingkan, agar umurnya sampai mencapai Hari Kebangkitan. Alih-alih menyatakan, "Aku bertaubat, wahai Tuhanku," iblis malah meminta,  "berilah aku tangguh sampai Hari Pembalasan."                          [1] Hidup tanpa pertaubatan itu seluruhnya penderitaan: terpisah dari Tuhan sama saja dengan mati mendadak. Baik hidup maupun mati, keduanya manis bersama hadirnya Tuhan: tanpa Tuhan, air kehidupan berubah jadi api. Kutukan Ilahiah menimpa iblis, ketika pada Hadirat-Nya dia meminta umur panjang. Bergantung pada  ilah  selain daripada Allah tak...

Mencermati Ketiadaan

Gambar
Semua yang mempesonamu,  pada wajah-wajah cantik, adalah Cahaya Sang Matahari  terpantul pada kaca prisma. Beragam corak kaca  membuat Cahaya tampil beraneka-warna. Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada, barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu. Bangunlah kebiasaan  menatap Cahaya tanpa prisma kaca, sehingga ketika prisma kaca itu remuk, tak lagi engkau buta. Selama ini engkau puas dengan pengetahuan yang kau dapat dari orang lain: matamu dapat memandang karena adanya cahaya lampu orang itu. Dia mengambil lampu itu, agar kau ketahui bahwa engkau seorang peminjam bukan pemberi yang murah hati. Jika semua pemberian itu telah engkau syukuri dengan sungguh-sungguh beramal, tak perlu kau tangisi kehilangan itu; karena Dia akan menggantinya seratus kali lipat. Tetapi jika selama ini kau tak pandai bersyukur, kini saatnya meneteskan air mata darah, karena keunggulan jiwa dihapuskan dari mereka yang tak bersyukur. Dia menghapus ...

Pangeran Palsu

Tengoklah kesini, ada Pangeran Palsu. Naik kuda kecil, diatas sadel kecil, lagaknya menyebalkan, bergaya memakai mahkota emas. Karena tak percaya kematian, dia bertanya dengan angkuh, "Dimana, dimana, malaikat maut itu?" Sebenarnya, Sang Maut senantiasa menyapanya, dari ke enam arah, seraya berseru, "Aku disini, aku disini." (Pada saatnya) Sang Maut berkata kepadanya, "Wahai keledai, kemana sekarang derap penuh gayamu? Kemana paras angkuh, bangga-diri, dan kemarahanmu? Kemana berhala cantik sumber kebahagiaanmu? Kepada siapa kau berikan mahkotamu, kini bantalmu gumpalan tanah, kasurmu dari tanah." Kurangi makanmu, gulung kasurmu, carilah  ad-Diin al-Haqq, agar kau menjadi Pangeran Keabadian, yang bebas pernak-pernik kecil adat dan kebiasaanmu. Jangan kubur jiwamu, jangan ubah roti jadi kotoran, kemana akalmu: kau lemparkan mutiara ke dasar kotoran. Ketahuilah, kita melekat ke tanah kotor ini semata agar menemukan mutiar...

Dikembalikan ke Serendah-rendah Keadaan

Gambar
Keindahan, yang diwarisi manusia dari Adam, yang kepadanya para malaikat bersujud, segera luruh, bagaikan jatuhnya Adam dari  al-Jannah . Keindahan menjerit: "Mengapa? Setelah aku cemerlang, kini memburam?" Dia menjawab: "Salahmu adalah karena engkau hidup terlalu lama." Jibril menyeretnya, seraya berkata: "Pergilah dari al-Jannah ini, enyahlah engkau dari majelis indah ini." Ia bertanya: "Apa gerangan maksud dari direndahkan setelah aku sebelumnya dimuliakan?"            [1] Jibril menjawab: "Dimuliakannya engkau adalah sebuah pemberian dari-Nya, sedangkan rendahnya engkau kini adalah penghakiman-Nya atas nilai sebenarnya dirimu." Ia menjerit: "Wahai Jibril, bukankah telah bersujud  engkau,   [2] sebelumnya, dengan sepenuh dirimu, mengapa sekarang kau usir aku dari al-Jannah?" "Jubahku tanggal,                                     ...

Harta Karun Dibawah Rumah

Gambar
Hancurkan rumahmu,    [1] karena seratus-ribu rumah bisa dibangun dari bebatuan murah ini. Harta-karun terletak di bawah rumah, [2] tiada jalan lain mencapainya: jangan ragu, hancurkan rumah, jangan berpangku-tangan saja. Sekali kau raih harta-karun itu,   mudah saja membangun ribuan rumah tanpa susah-payah. Ketika sakaratul-maut tiba, rumah ini akan hancur dengan sendirinya, dan harta-karun dibawahnya pastilah takkan terungkap, maka harta-karun itu tak pernah kau dapat; karena jiwamu mendapat anugerah Ilahiah  sebagai upah dari upayamu menghancurkan rumah. Tanpa amal itu, tiada ganjaran: Tiada sesuatu pun dijumpai manusia di akhirat kecuali balasan dari amalnya.   [3] Catatan: [1]  Di alam-dunia ini jiwa ditempatkan dalam raga, itulah rumahnya. Sehingga "menghancurkan rumah" itu  dapat dibaca: "menundukkan karsa raga dalam cahaya sunnah  Muhammad SAW." [2]  Mengingatkan salah satu kisah sangat terkenal, yang ...

Mereka yang Telah Mati

Para pencinta, yang dengan ikhlas mati dari diri mereka sendiri: mereka bagaikan gula, di hadapan Sang Kekasih. Pada Hari Perjanjian,  [1] mereka minum Air Kehidupan, sehingga matinya jiwa mereka tak seperti kematian orang lain. Karena mereka telah dibangkitkan dalam Cinta, kematian mereka tak seperti orang kebanyakan. Dengan kelembutan-Nya, mereka telah melampaui tingkat para malaikat; sama sekali tak bisa kematian mereka dibandingkan dengan orang kebanyakan. Apakah kau sangka Singa mati bagai anjing, jauh dari hadirat-Nya? [2] Ketika para pencinta mati di tengah Jalan, Sang Raja Ruhaniah berlari menyambut. [3] Ketika mereka mati di kaki Sang Rembulan, [4] mereka menyala bagaikan Matahari. [5] Jiwa para pencinta sejati itu bersatu mereka mati dalam saling mencintai. [6] Derai embun Cinta membasuh jantung mereka, mereka sampai pada kematian dengan hati berdarah-darah. Setiap me...

Dalam Dekapan Sang Kekasih

Akhirnya, berangkat engkau, bertolak ke alam tak-kasat mata. Sungguh mengagumkan, caramu tinggalkan alam-dunia. Kau kibaskan sayap dan bulumu, kau lepaskan diri dari sangkarmu. Mengangkasa engkau ke langit, kau capai alam jiwa. Pernah engkau bagai elang ningrat, dikurung seorang wanita tua.         [1] Lalu kau dengar genderang penyeru, [2] dan melesatlah engkau lintasi ruang dan waktu. Sebagai burung bulbul yang merindu, pernah kau terbang bersama para burung hantu. [3] Ketika harum semerbak berhembus dari taman mawar, segera engkau bertolak, menjemput Sang Mawar. Anggur dari alam fana ini, [4] terkadang membuat pening kepalamu. Akhirnya, kau masuki Kedai Keabadian. Bagaikan sebatang panah [5] melesat engkau dari busur, tepat menghunjam ke inti kebahagiaan. Alam bayangan ini memberimu bermacam isyarat palsu. Tapi telah berpaling engkau dari maya, dan melangkah ke hadirat kesejatia...

Seyogyanya Kau tak Takut Mati

Seyogyanya kau tak takut mati. Hakikat dirimu itu jiwa yang tak mati. [1] Tak bisa engkau dipendam dalam kubur gelap, ketika kau dipenuhi cemerlang Ilahiah. [2] Berbahagialah bersama Sang Kekasih, tak ada yang sebaik Dia. Alam Dunia akan gemetar, karena permata yang kau genggam. Ketika qalb -mu terserap dalam cinta penuh kasih, dengan mudah kau hadapi semua wajah kepahitan. Ketika bersih dari kejahatan, tiada hal lain, kecuali bahagia dan gembira. Sahabatku, tak perlu kau bersedih. Catatan: [1] Pada “kematian," jiwa dipindahkan ke Alam Barzakh, sementara yang dikuburkan adalah jasmani. “Jiwa,” hakikat diri manusia baru mati, bersama semua makhluk, pada Hari Kiamat . [2] Kondisi penghuni Alam Barzakh ditentukan oleh "cahaya" yang "diadakan baginya;" periksa QS [6]: 122. Sumber: Rumi : Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2594 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nader Khalili dalam Rumi: Fountain of Fire, Burning Gate Press, 1994.

Di Ambang Batas Kedua Alam

Gambar
Wahai para pencinta, genderang langit telah memanggilku, dan berseru: sudah saatnya kau tinggalkan dunia ini. Lihatlah! Sang penunggang unta telah bangkit, kafilah ini segera bertolak. Dia berkata, “maafkan aku membangunkanmu, tapi, wahai peziarah, mengapa kau tertidur? Karena di depan maupun di belakangmu bel unta nyaring berbunyi. Saatnya untuk berangkat.” Setiap saat berangkat satu jiwa mencari dirinya sendiri. Dari arah gemintang, yang menggantung bagaikan rangkaian lilin, dari lengkung biru langit: turunlah jiwa-jiwa nan cantik; dan Yang Tersembunyi menyingkapkan Diri. Selama ini, semesta dunia yang melengkung, berputar-berayun, telah menina-bobokkanmu. Waspadailah hidup yang menggantung ini, waspadailah dengkurmu yang berat. Wahai qalb, carilah Sang Raja Qalb Wahai awliya, carilah Sang Wali Abadi. Wahai Sang Penjaga, selalulah waspada seluruh negeri ini bisa terkalahkan, jika engkau tertidur. Malam ini, ditingkahi hiruk-pikuk kota, di tengah cahaya lilin dan obor; Malam ini, al...