Sebenarnya, tidak ada pecinta yang mencari penyatuan,
tanpa yang-dicintainya mencarinya.
Sementara cinta dari sang pecinta membuatnya sekurus
tali-busur, maka cinta dari yang-dicintai membuatnya
indah dan segar.
Ketika kilat cinta bagi yang-tercinta
menyambar ke hati yang-ini, ketahuilah,
ada cinta dalam hati yang-itu.
Ketika cinta kepada Tuhan telah nyaring bernyanyi
di hatimu, tak pelak lagi,
Tuhan telah mencintaimu.
Tiada suara tepukan bisa datang hanya dari sebelah tangan.
Ketika orang yang haus mengeluh: "Wahai air yang lezat,"
Air pun mengeluh, seraya bertanya:
"Dimana kah sang peminum air?"
Kehausan di dalam jiwa-jiwa kita adalah ketertarikan yang
ditaruh disitu oleh Sang Air:
kita adalah milik-Nya, dan Dia adalah milik kita.
Hikmah Tuhan dalam ketetapan dan hukum membuat kita,
satu sama lain, adalah pecinta.
Karena pengaturan-awal itu, semua unsur dalam semesta
berpasangan, dan saling mencintai satu sama lain.
Setiap unsur dalam semesta menginginkan pasangannya,
bagaikan nyala-amber dan bilah jerami.
Langit berkata kepada Bumi: "selamat datang!
Aku adalah magnit bagimu, dan engkau besi bagiku."
Dalam pandangan mereka yang berilmu, langit adalah lelaki
dan bumi adalah perempuan: apa pun yang ditanamkan langit,
ditumbuh-kembangkan bumi.
Ketika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkannya;
ketika lenyap kesegaran dan embun, langit menganugerahkannya.
Isyarat di langit-jiwa yang bagaikan rasi-bintang,
mengirimkan penguatan ke debu-bumi;
isyarat yang bagaikan bentuk-bentuk air mengandung kesegaran;
isyarat yang bagaikan bentuk-bentuk udara melayangkan awan,
agar uap beracun segera tertiup menjauh;
Isyarat berapi-api adalah sumber panas matahari,
yang bagaikan penggorengan, memerah panas semua bagiannya,
dipanggang api.
Langit berputar dengan gelisah dalam semesta Waktu,
bagaikan suami menjelajah mencari nafkah bagi
kepentingan sang istri;
Dan bumi ini bagaikan istri yang mengurus rumah-tangga:
dia melahirkan dan menyusui.
Karena itu pandanglah langit dan bumi sebagai makhluk berakal,
karena mereka mengerjakan karya makhluk-makhluk berakal.
Jika ke dua kekasih ini tidak merasakan kemanisan
satu dari yang lainnya, maka mengapakah mereka
merayap-bersama bagaikan pasangan?
Tanpa bumi bagaimana mawar dan bunga 'arghawan' tumbuh?
Apa jadinya, kemudian, dengan air dan kehangatan dari langit?
Gairah yang ditanamkan dalam diri perempuan kepada lelaki
adalah demi tujuan: agar mereka dapat menyempurnakan karya
satu sama lain.
Tuhan menaruh gairah di dalam diri lelaki dan
perempuan agar semesta dilestarikan oleh penyatuan ini.
Dia juga menanamkan gairah setiap bagian kepada bagian lain:
dari penyatuan keduanya, maka karya kelahiran dihasilkan.
Seperti itu pula malam dan siang saling-berpelukan:
mereka tampak berbeda, tetapi sebenarnya dalam kesepakatan.
Siang dan malam tampil berbeda,
mereka tampak saling berlainan dan bermusuhan;
akan tetapi keduanya dalam rangka kebenaran yang satu;
Satu sama lain saling menghendaki, bagai terikatnya kerabat,
demi penyempurnaan tindakan dan amal mereka.
Keduanya demi satu tujuan;
tanpa malamnya perempuan,
lelaki tidak akan menerima penghasilan:
sehingga tiada yang dapat dibelanjakan oleh siang.
Bumi berkata kepada elemen ke-bumi-an jasmani:
"Kembalilah! Tinggalkanlah ruh,
datanglah kepadaku bagaikan debu; Engkau adalah golonganku,
engkau lebih cocok berada bersamaku:
lebih baik engkau keluar dari tubuh itu dan dari air itu."
Ia menjawab:
"Ya, tetapi aku terpenjara disini, sungguhpun,
seperti engkau, akupun lelah oleh perpisahan ini."
Air mencari-cari elemen air dari jasmani, seraya berkata:
"Wahai air, kembalilah kepada kami dari pengasinganmu."
Api memanggil panas dari jasmani:
"Engkau adalah api, kembalilah ke asalmu."
Terdapat dua ratus dan tujuh puluh penyakit dalam tubuh,
yang disebabkan oleh elemen-elemen yang tarik-menarik
tanpa tali.
Penyakit datang untuk menghancurkan tubuh,
agar elemen-elemen dapat pergi, berpisah satu dari yang lain.
Elemen-elemen ini bagaikan empat ekor burung yang kaki-kakinya
diikat jadi satu: kematian dan penyakit melepaskan kaki mereka.
Ketika kematian saling melepaskan kaki mereka dari
ikatan dengan yang lain,
maka segeralah setiap burung-elemen terbang pergi.
Tarikan sumber dan turunannya ini terus menerus menanamkan
kesakitan pada tubuh kita.
Agar koalisi pada tubuh ini dapat pecah-robek,
sehingga setiap elemen, bagaikan burung,
dapat terbang ke rumahnya.
Akan tetapi, Kasih-sayang Tuhan mencegah mereka
dari ketergesaan ini, dan menyatukan mereka
dalam kesehatan, sampai dengan masa
yang telah ditetapkan;
(Kasih-sayang itu) berkata: "Wahai bagian-bagian,
masa itu tidaklah engkau ketahui dengan pasti:
karenanya, tiada gunanya begimu berusaha terbang
sebelum masanya tiba."
Seperti halnya setiap bagian dari tubuh mencari
penyatuan dengan sumbernya, maka bagaimanakah keadaan jiwa,
yang bagaikan seorang asing,
terpisah dari dari rumahnya.
Jiwa berkata: "Wahai bagian kebumianku yang rendah,
pengasinganku lebih pahit daripada engkau:
aku itu warga langit."
Gairah dari tubuh bagi tetumbuhan hijau dan aliran air,
karena dari situlah dia bersumber;
Gairah dari jiwa adalah bagi Kehidupan dan Yang Hidup,
karena sumbernya adalah Jiwa Tak-terhingga.
Gairah jiwa adalah kepada hikmah dan ilmu;
gairah tubuh adalah kepada kebun, rerumputan
dan tanaman merambat.
Gairah jiwa adalah bagi kenaikan dan ketinggian;
gairah tubuh adalah bagi keuntungan dan sarana untuk
mendapatkan keperluannya.
Ketinggian itu pun juga memiliki gairah dan cinta kepada jiwa:
dari sini pahamilah bahwa "Dia mencintai mereka,
dan mereka pun mencintai-Nya." [1]
Jika terus kulanjutkan penjelasan ini, maka tiada ujungnya:
Matsnawi ini bisa sampai delapan puluh jilid.
Intinya adalah: ketika seseorang mencari,
jiwa dari obyek yang dicarinya juga menghendaki dia.
Apakah dia itu manusia, binatang, tumbuhan, atau mineral,
setiap obyek yang dikehendaki mencintai semua yang belum
memperoleh obyek-kehendak itu.
Mereka yang tanpa obyek-kehendak mengikatkan diri
pada obyek itu, sementara yang dikehendaki terus menarik mereka;
Akan tetapi, ketika kehendak para pecinta membuat mereka kurus,
maka kehendak dari yang-dicintai membuat mereka
cantik dan indah.
Cinta dari yang-dicintai menyalakan pipi;
cinta dari sang pecinta menelan jiwanya.
Nyala-amber mencintai jerami dengan penampilan bagaikan
tidak-memerlukan-apapun; sementara sang jerami
berjuang-keras untuk maju di jalan panjang ini.
(Rumi, Matsnawi, III: 4393 - 4447, terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson)
[1] (QS [5]: 54)
0 komentar:
Poskan Komentar