Selasa, 04 Mei 2010

Mi'raj ke dalam Perut Paus

Ketika Sang Kekasih menjadi sahabat,
tempat manapun menjadi
"bagaikan di langit;"
dan bukan "terbenam ke bumi."

Sang Nabi saw, berkata,
"Jangan menyangka mi'raj-ku lebih unggul
daripada apa yang terjadi pada Yunus;        [1]
aku diangkat ke langit;
dia ditenggelamkan ke dalam perut paus;    [2]
kedekatan pada al-Haqq itu di luar perhitungan."

Kedekatan itu bukan soal naik atau turun:
kedekatan pada al-Haqq itu artinya 
kemerdekaan dari penjara keberadaan.

Tiada tempat bagi gerak "ke atas"
atau 
"ke bawah" dalam ketiadaan.

Ketiadaan tak mengenal "nanti,"
"jauh," atau "terlambat."

Sumber ilmu dan khazanah al-Haqq
berada di ketiadaan.
Karena keberadaan ini saja telah menipumu,
bagaimana mungkin kau pahami
apa itu ketiadaan?                        [3]

Kekurangan adalah bagian dunia
yang telah ditentukan bagi sang Nabi saw,
kefakiran dan  kerendahan 
adalah kebanggaan dan kemuliaannya.


Catatan:
[1] Nabi Allah Yunus as, dimuliakan dalam Al Qur'an,
menjadi nama surat ke 10.


[2]  Mawlana Rumi menerangkan bahwa saat pencapaian
ruhaniyyah tertinggi nabi Yunus as, terjadi ketika jasadnya
ditenggelamkan, lalu untuk beberapa saat dimasukkan
kedalam perut seekor paus.

Lihat antara lain, QS [21]: 87 dan 
(QS [37]: 143)

[3] "
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak;
seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan
para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah
serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu." 

(QS. Al Hadiid [57]: 20)



Sumber: 
Rumi:  Matsnavi  III: 4511-4516, 4519
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Nicholson.







3 komentar:

Anonim mengatakan...

Terima kasih <3

Rasulullah Saw bersabda,”Pada hari Kiamat kelak, ditegakkan al-Mizan (timbangan). Kemudian dihadirkan ahli shalat untuk ditimbang amalnya, lalu diberikan kepada mereka pahalanya secara sempurna. Kemudian dihadirkan ahli shadaqah untuk ditimbang amalnya, lalu diberikan kepada mereka pahalanya secara sempurna. Kemudian dihadirkan ahli shaum untuk ditimbang amalnya, lalu diberikan kepada mereka pahalanya secara sempurna. Kemudian dihadirkanlah ahli musibah, namun amal mereka tidak ditimbang dan catatan mereka tidak diperiksa, bahkan mereka diberi pahala yang tanpa batas, sehingga mereka yang dulunya tidak pernah tertimpa musibah mengharapkan sekiranya mereka dahulu termasuk golongan orang-orang yang tertimpa musibah, dikarenakan banyaknya balasan yang diterima oleh para ahli musibah.” Dan,

Rasulullah Saw bersabda,”Zuhud di dunia itu bukanlah engkau mengharamkan yang halal, dan bukan pula engkau menyia-nyiakan harta. Zuhud itu adalah engkau tidak menggantungkan diri kepada sesuatu pun yang ada pada dirimu, namun engkau lebih yakin pada apa yang ada di sisi Allah Ta’ala. Dan engkau lebih senang menerima musibah, sekalipun musibah itu menimpa sepanjang hidupmu di dunia.”

* Kedua hadits di atas diambil dari buku “Nashaihul Ibaad”, Imam Nawawi Al-Bantani.

Rasulullah Saw bersabda,”Bukanlah kezuhudan di dunia ini dengan mengharamkan yang halal, dan bukan pula dengan menghilangkan harta kekayaan, tetapi zuhud di dunia ini adalah bahwa dengan apa yang ada di tanganmu sendiri engkau menjadi semakin percaya kepada Allah. Dan apabila musibah (malapetaka) menimpa diri, niscaya engkau lebih senang karena mendapat pahala dari Allah Swt, daripada musibah itu terhindar dari padamu.”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abi Dzar)

Rasulullah saw bersabda,”Apapun yang menimpa seseorang yang beriman, berupa sesuatu yang tidak ia sukai, maka itu adalah suatu musibah.”

ngrumi mengatakan...

Sungguh peringatan yang besar dari Rasulullah saw, terima kasih. Alhamdulillah, salam.

KISAH SUKSES IBU HERAWATI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.