Sabtu, 18 Februari 2012

Di Lembah Cinta


Tengah malam,
aku bertanya, siapa ini yang ada
di dalam rumah qalb-ku?


Dia menjawab, Inilah Aku,
yang cemerlangnya membuat matahari dan
rembulan jadi tertunduk malu.


Dia bertanya, Mengapa rumah ini penuh
dengan aneka macam lukisan?


Aku menjawab,
Ini semua adalah bayangan dari-Mu,
wahai Engkau yang wajah-Mu membuat
iri warga Chigil.
                              [1]

Dia bertanya, Dan apa ini:
qalb yang berdarah-darah?


Aku menjawab,
Ini adalah gambaran diriku:
hati terluka, dan kaki dalam lumpur.

Kuikat leher dari jiwaku,
dan menyeretnya kehadapan-Nya sebagai persembahan:
Inilah dia yang telah berkali-kali memunggungi Cinta,
kali ini jangalah Kau lepaskan.


Dia serahkan satu ujung tali,
ujung yang penuh kecurangan dan pengkhianatan,
Peganglah ujung yang ini,
Aku kan menghela dari ujung yang lain,
mari berharap tali ini tidak putus.


Kuraih tangan-Nya, Dia menepisku,
seraya berkata, Lepaskan!

Aku bertanya,
Mengapa Engkau bersikap
keras padaku?


Dia menjawab, Ketahuilah, sikap keras-Ku
demi tujuan yang baik bagimu,
bukan karena niat-buruk atau jahat.

Ini untuk memperingatkanmu,
barangsiapa masuk kesini dan berkata,
'Inilah Aku!'
maka Aku akan memukul dahinya;

karena ini adalah Lembah Cinta,
bukan kandang hewan.


Salahuddiin,                                              [2]
sungguh keelokan wajah sejatimu
indahnya bagaikan sosok Tamu di tengah malam itu;

kawan-kawan gosok matamu,
dan tataplah dia dengan pandangan qalb-mu,
dengan bashirah-mu.

Catatan:
[1]  Daerah Chigil di Turkesta terkenal dengan
keelokan wajah warganya.

[2]  Salahuddiin Zarkub, salah satu sahabat Mawlana Rumi,
belakangan berkembang menjadi sosok inspirasi ruhaniyah baginya;
yaitu setelah Mawlana Rumi menerima bahwa Syamsuddin at-Tabriz
yang menghilang dan lama dirindukannya, telah wafat.

Menurut Sultan Valad, salah satu putra Rumi, tentang Salahuddin ini,
Rumi menyatakan:
Syamsuddin yang selalu kita bicarakan
telah kembali pada kita! Mengapa kita masih tertidur?
Bersalinlah kalian dengan baju baru, dia telah kembali
menunjukkan dan memamerkan keindahannya.

(Dari karya Franklin D. Lewis: Rumi, Past, Present, East and West, Oneworld Publications, 2000).

Sumber:
Rumi:
 Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1335
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry
dalam
 Mystical Poems of Rumi 1, The University of Chicagi Press, 1968.

Kamis, 16 Februari 2012

Kembalilah ke Langit

Setiap saat,
sebuah seruan dari langit
menyapa inti jiwa sang lelaki pencari:
Sampai kapan engkau melekat ke bumi,
seperti buih. Naiklah ke langit!


Mereka yang jiwanya berat
tetap lekat menempel bagai buih;
hanya jika termurnikan
ia dapat mengalir ke atas.

Jika kau tak terus-menerus
mengaduk tanah-liatmu,
airmu akan perlahan menjernih,
dan buihmu tercahayai,
maka sakitmu terobati.

Seperti obor,
hanya lebih banyak asapnya
daripada apinya,
asapnya menyebar kesana kemari,
sehingga ruang di dalam jasmani,
tempat jiwa terpenjara,
tak lagi bersinar.

Jika kau hilangkan asapnya

kau dapat nikmati kembali
nyala api obor;
tempatmu di semesta ini
dan semesta-semesta mendatang
akan terterangi oleh cahayamu itu.

Jika kau menatap pada air keruh,
tak kelihatan disitu rembulan atau langit;
matahari dan rembulan menghilang
ketika kegelapan menyelimuti udara.

Dari utara angin bertiup
menyibak udara hingga jernih;
datangnya pada fajar hari,
usapannya melapangkan dada.

Tiupan ruhaniyah melegakan dada
menyingkirkan semua kesedihan;
biarkanlah nafas berhenti barang sejenak,
agar fana' menggenggam,
jiwa lebur dalam ketiadaan.

Sang Jiwa,
warga asing pendatang di bumi ini,
selalu rindu pada semesta ketiadaan;
sambil heran mendapati jiwa hewaniyah
begitu senang merumput di padang alam dunia.

Wahai Jiwa murni yang mulia,
sampai kapan kau tinggal disini?

Engkaulah elang Sang Raja,
kembalilah: penuhi isyarat panggilan
Sang Penguasa.

Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal 26.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arbery
dalam Mystical Poems of Rumi 1,
The University of Chicago Press, 1968.

Rabu, 15 Februari 2012

Jebakan Melekat



Tidakkah kau ingin bergabung

bersama sepuluh sahabat Nabi
yang telah menerima kabar gembira;
mereka yang telah disucikan
bagai emas murni.                         [1]

Dalam persaudaraan ditemukan kesempurnaan,
karena seorang lelaki itu satu kesatuan
dengan sahabat-sahabatnya.

Mereka akan bersama di alam ini
dan di alam-alam berikutnya;
inilah yang dimaksud dalam hadits dari
Musthapa yang berakhlak sempurna.

(Ketika Beliau berkata) "Seorang lelaki itu
bersama dengan orang yang dicintainya:"

qalb itu tak terpisahkan dari sasaran cintanya.

Jangan mau tinggal di tempat yang ada umpan
dan jebakannya: wahai mereka yang memandang
orang lain hanya sebagai korban yang lemah;
perhatikanlah, bagaimana kesudahan para
pemangsa manusia.

Wahai mereka yang hanya bisa melihat
kelemahan dari orang-orang lemah:
mereka yang bergantung pada kebaikanmu;
ketahuilah ada tangan lain di atas tanganmu.

Sungguh dungu,
jika kau pandang orang lain lemah,
padahal sebenarnya kau sendiri juga lemah.

Kau pandang dirimu seorang pemburu,
sementara, pada saat yang sama,
sebenarnya kau juga buruan.

Jangan sampai kau tergolong orang
yang dinyatakan dalam ayat,
"... Kami taruh dimuka mereka dinding,
dan di belakang mereka dinding ..." 
    [2]
sehingga tak bisa kau lihat musuh,
walaupun musuhmu itu nyata.

Kerakusan ketika berburu
sering membuat orang tak waspada,
tak sadar dirinya berbalik jadi buruan:
saat mencoba memenangkan hati orang banyak
malahan dia kehilangan qalb-nya sendiri.

Dalam pencarianmu,
jangan sampai engkau lebih bodoh
daripada burung: bahkan seekor pipit pun
selalu menengok pada apa-apa yang ada
"...di hadapan dan di belakangnya..."   [3]

Saat ia menghampiri umpan,
berkali-kali ditengoknya ke muka
dan ke belakang.

(Seolah berkata) "Apakah ada pemburu tengah
mengintai, dari depan atau belakangku?
Apakah biji ini aman kumakan sekarang?"

Tidakkah kau pelajari kisah-kisah lampau
tentang akhir cerita mereka yang jahat;
tidakkah kau juga lihat di hadapanmu ,
kematian akan mendatangi sahabat dan kerabatmu?

Semua akah musnah,
tanpa Rabb perlu menggunakan alat apa pun:
Dia dekat kepadamu dimana pun engkau berada.

Jika Rabb menurunkan siksaan pada yang jahat,
Dia tak memerlukan alat: sadarilah Rabb
mengadili tanpa perlu bantuan sedikit pun.

Orang yang dulu mengejek
"Jika Tuhan itu ada, maka dimanakah Dia"
akan bersaksi akan adanya Dia,
ketika menjalani siksa.

Orang yang berkata,
"Ini hanyalah khayalan dan sihir,"
akan menangis sambil merintih,
"Wahai Engkau yang Maha Dekat!"

Setiap orang ingin terhindar dari jebakan;
tapi jarang yang menyadari bahwa jebakan itu
melekat kepada semua hal yang berlebihan.

Patahkanlah pasak jebakan itu:
hindarilah pahitnya derita karena
memperturutkan hawa-nafsumu.

Telah kujelaskan kunci persoalan
sesuai dengan tingkat pengertianmu:
pahamilah dalam-dalam, dan jangan
pernah kau palingkan lagi wajahmu
dari Jalan Pertaubatan.

Putuskanlah tali jebakannya,
yaitu rakus dan iri-dengki: ingatlah
ayat, "pada lehernya ada tali dari sabut."


Catatan:
[1]  Para sahabat Nabi yang telah menerima kabar
dari Allah tentang tempat mereka dalam al-Jannah.

[2]  QS YaaSiin [36]: 9.

[3]  QS Al Baqarah [2]: 255.

[4]  QS Al Lahab [111]: 5.



Sumber:
Rumi: Matsnavi V: 744 - 764
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Selasa, 14 Februari 2012

Sang Khalilullah Menyembelih Gagak, Unggas ke Tiga Pengganggu Perjalanan

Wahai pejalan,
mengapa gagak dalam dirimu perlu disembelih?

Karena Perintah Ilahiah!
Ada hikmah apakah dibalik Perintah itu?
Mari kuperlihatkan sedikit.

Gaduhnya suara gagak hitam berkaok
itu permintaa terus menerus agar diberi
umur panjang di alam dunia ini.

Bagaikan iblis,
gagak meminta-minta kepada Tuhan
Yang Maha Suci  dan tak-Terbandingkan,
agar umurnya sampai mencapai Hari Kebangkitan.

Alih-alih menyatakan,

"Aku bertaubat, wahai Tuhanku,"
iblis malah meminta, "berilah aku tangguh
sampai Hari Pembalasan."                         
[1]

Hidup tanpa pertaubatan itu
seluruhnya penderitaan: terpisah dari Tuhan
sama saja dengan mati mendadak.

Baik hidup maupun mati,
keduanya manis bersama hadirnya Tuhan:
tanpa Tuhan, air kehidupan berubah jadi api.

Kutukan Ilahiah menimpa iblis,
ketika pada Hadirat-Nya dia meminta umur panjang.

Bergantung pada ilah selain daripada Allah
tak sedikit pun membawa keuntungan:
hakikatnya itu kerugian total.

Apalagi mendambakan suatu kehidupan
yang terasing dari Tuhan,
sama saja seperti bertingkah-laku culas
seperti serigala di hadapan seekor singa.

Itu seperti meminta,
"Beri aku umur lebih panjang,
supaya lebih lama aku ingkar dan bergelimang dosa;
beri aku lebih banyak waktu
agar aku lebih rendah lagi."

Jadilah iblis suatu ikon bagi Kutukan Ilahiah:
mencari-cari kutukan itu mengikuti sang syaithan.

Hidup yang baik itu menyuburkan sang Jiwa
dalam kedekatan kepada Tuhan;
kebalikannya itu hidup bagaikan burung gagak,
hidupnya hanya untuk memakan kotoran.

Itu seperti meminta,
"Beri aku umur lebih panjang,
sehingga aku selalu bisa memakan kotoran,
teruslah tambah, karena aku ini memang jahat."

Seandainya lisannya tidak kotor,
karena sering memakan kotoran,
tentu dia akan memohon,
"sucikanlah aku dari sifat seperi burung gagak ini."


Catatan:
[1]  QS Shaad [38]: 79. 

Sumber:
Rumi: Matsnavi V: 765 - 779
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Jumat, 10 Februari 2012

Berlapis Makna

Ketika al-Qur'an diturunkan,
ramai kaum tak beriman mencemoohkan.

(Mereka mengatakan):
"Itu hanya kisah dan cerita masa lalu;
bukan penelitian yang baru,
bukan pemikiran yang canggih;

Bahkan anak kecil pun bisa memahaminya:
hanya tentang hal-hal yang diperintahkan
dan hal-hal yang dilarang.

Kisah tentang Yusuf--
tentang betapa tampannya dia,
kisah ayahnya Ya'qub,
Zulaikha dan gairahnya.

Naskah biasa saja,
semua orang dapat memahami maknanya:
tidak terdapat bagian yang membingungkan akal."

Dia berkata:
"Jika menurutmu mudah,
buatlah satu surat saja yang semisal                  
 [1]
dan semudah al-Qur'an ini.

Kerahkanlah jin, manusia dan cerdik-pandai
diantaramu, menandingi dengan satu ayat
yang semisal."


Ketahuilah, kalimah dalam al-Qur'an itu
memiliki pengertian literal
dan makna-dalam yang sangat agung.

Dan dibalik makna-dalam itu,
terdapat lapisan makna ketiga
yang didalamnya semua kecerdasan hilang akal.

Tentang makna lapis ke empat dari al-Qur'an:
sama sekali tak ada yang dapat memahaminya,
kecuali Tuhan, yang bagi-Nya tak ada sekutu,
yang bagi-Nya tak ada suatu pembanding.

Karena itu anakku,
jangan membaca al-Qur'an 
hanya demi makna luarnya belaka.

Azazil memandang sang Insan,
dan didapatinya dia tersusun
hanya dari tanah liat belaka.

Aspek luar al-Qur'an itu seperti jasmani insan:
ciri-cirinya tampak;
sementara jiwanya tersembunyi.

Boleh jadi kau tinggal bersama
sanak-saudaramu selama seratus tahun,
tapi tak setipis rambut pun mereka pernah
mengenal jiwamu.

Catatan:
[1]  Qs Al Baqarah [2]: 23

Sumber:
Rumi: Matsnavi  III: 4237 - 4249
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Selasa, 07 Februari 2012

Pintu-pintu Menuju Taman-Mu


Wahai Kekasih,
manakah yang lebih mempesona,
Wajah-Mu atau al-Jannah-Mu ini, 
yang begini luas.

Bercahayalah, wahai rembulanku,
Engkaulah inspirasi,
bagi semua yang menatap langit malam.

Yang asam akan berubah jadi manis.
Prasangka diganti dengan Kebenaran.
Gerumbul duri diubah jadi mekar bunga.

Seratus tubuh akan bangkit hidup kembali,
dengan satu hembusan-Mu.

Kau taruh pintu demi pintu di langit
Kau taruh harapan dalam hati insan.

Kau cekam setiap kecerdasan,
Kau buat ke dua alam terpesona pada-Mu.

Wahai Kekasih,
pipimu memerah,
bagai mawar.

Wahai Kekasih,
Engkaulah pujaan alam ini,
dan alam berikutnya,
dan alam-alam berikutnya.

Kelopak-kelopak jagung,
berupaya keras,
mencoba meniru satu warna-Mu.

Semua jenis kebenaran
lebur jadi satu
dibawah injakan kaki-Mu.

Seluruh nada laguku
rindu menggemakan merdunya suara-Mu.

Tanpa Engkau,
pasar dan perniagaan sepi.
Taman dan kebun longsor
tersapu air bah.

Kau ajari pohon
menari seiring tiupan angin.
Kau ajari cabang-cabang basah 
menangis dalam hujan.

Daun dan buah mabuk,
rindu pada air-kehidupan-Mu.

Jika ada satu hal yang diinginkan
oleh taman luas ini,
mestilah itu musim semi abadi:
ketika dedaunan terus menari berputar
melayang dalam tiupan lembut-Mu.

Cahaya langit dan planet-planet 
yang berputar di taman ini,
tak memandang sebelah mata;
pada bintang manapun,
yang berani bernyala dalam galaksimu,
yang kau anggap sangatlah luasnya.

Sungguh dari-Mu ada janji yang besar:
Kau sajikan kabar gembira 
dan bukan sekedar pengisi perut,
kepada setiap diri 
yang menjadi tamu-Mu.

Kupergi kesana dan langsung kembali.
Dalam sekejap, bagai dalam khayal:
aku berada di awal dan di akhir;
Jiwa ini bagaikan seekor gajah
yang Kau taruh di padang rumput tak bertepi.

Semua yang kurencanakan,
tak satu pun membuahkan hasil.

Akhirnya hatiku mematahkan rantainya,
mencengkeram jiwaku,
dan menyeretnya ke hadirat-Mu.

Disana tak kulihat hal yang rendah,
tiada rasa-sakit.

Setiap saat suatu kehidupan muncul,
terlahir dari aliran kasih-sayang-Mu.

Wahai, alangkah kecilnya
gunung dibandingkan keagungan-Mu.

Dan hati ini tampak kumuh,
disandingkan dengan Cinta-Mu.

Kau bentangkan lebar-lebar semua pintu:
pintu-pintu pada besi,
pada gunung-gunung,
pada bebatuan.

Tapi hatiku merayap, berputar kesana kemari,
bagaikan seekor semut berusaha keras
mencari satu lubang sempit.

Nyanyianku bisa sampai akhir zaman,
berupaya menjelaskan keindahan wajah-Mu,
tapi selalu aku terdengar sumbang.

Tak ada insan yang waras bicaranya
ketika dia dimabuk cinta.

Tak ada orang yang lurus jalannya,
ketika dia tengah tenggelam
dalam lautan anggur-Mu.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no 2138.
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh 
Jonathan Star dan Shahram Shiva, dalam 
A Garden Beyond Paradise: The Mystical Poetry of Rumi,
Bantam Books, 1992



Tanpa Engkau

Kutanam mawar,
tapi tanpa Engkau,
pohon kaktus yang tumbuh.

Kuperam telur merak,
ular yang menetas.

Kumainkan harpa,
derau sumbang yang terdengar.

Kumelesat ke surga tertinggi,
neraka bernyala yang kutemui.

Sumber:
Rumi: Quatrain no 90-a.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star
dan Shahram Shiva.


Engkaulah ...


Sejak kumulai berjalan,
Engkau lah tujuan,
Engkau lah pemandu.

Ketika kucari hatiku,
Engkau lah yang meremukkannya.

Ketika kucari kedamaian,
Engkau lah yang mengayomi.

Ketika kupergi berjihad,
Engkau lah pedangku.

Ketika kubelajar lebur,
Engkau lah anggur dan manisan.

Ketika kudatangi taman itu,
Engkau lah sang narsisus memekar.

Ketika kusampai ke tambang itu,
Engkau lah sang merah delima.

Ketika kuselami samudera,
Engkau lah mutiara di dasar.

Ketika kulintasi gurun,
Engkau lah oase.

Ketika aku mengangkasa,
Engkau lah bintang paling terang.

Ketika kutegak dengan berani,
Engkau lah perisaiku.


Ketika kupingsan kebingungan,
Engkau lah wewangian yang menyadarkan.

Ketika kuterjun dalam pertempuran,
Engkau lah sang panglima pasukan.

Ketika kutiba di perjamuan,
Engkau lah tuan-rumah,
penghibur, sekaligus cangkir.

Ketika kumenulis,
Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta.

Ketika kuterjaga,
Engkau lah kesadaranku.

Ketika kutertidur,
Kau masuki mimpiku.

Ketika kucari rima bagi puisiku,
Engkaulah yang menyenandungkannya.

Gambaran apa pun yang kau coba lukiskan,
Dia mengatasi itu.

Setinggi apa pun kau naik,
Dia lebih tinggi daripada ketinggianmu.

Diamlah,
dan taruhlah bacaanmu:
biarkan Dia yang jadi kitabmu.

Diamlah,
karena seluruh enam arah
adalah Cahaya-Nya.

Dan ketika kau berhasil lewati seluruh arah,
kau kan dapati Dia lah Penguasa semua arah.

Telah kupilih keridhaan-Mu 
diatas kesenanganku.
Rahasiaku ini tetap kusimpan.

Wahai, matahari Tabriz yang mencengangkan,
tak mungkin engkau tetap tersembunyi.
Cemerlang cahayamu
akan mewartakan kedudukanmu.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2251.
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh:
Jonathan Star, dalam Rumi -- In the Arms of the Beloved;

Annemarie Schimmel, dalam I am Wind, You are Fire;
William Chittick, dalam The Sufi Path of Love.

Semua bagi Sang Jiwa

Wahai pencari,
wahai ksatria berhati singa,
Yang Maha Tinggi menggilirkan untukmu:

panas dan dingin,
sedih dan perih,
takut dan lapar,
sakit dan fakir,
semuanya bagi sang jiwa;
 
agar nilai sejati jiwamu terungkap,
dan dapat digunakan. 

Sumber:
Rumi: Matsnavi  II: 2963 - 2964
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Rabu, 01 Februari 2012

Tertidur dan Tengah Bermimpi

Seseorang yang lama tinggal di sebuah kota,
tertidur; dan di dalam tidurnya melihat kota lain,
yang penuh kebaikan dan keburukan;
hingga kotanya semula hilang dari ingatannya.

Seharusnya, dia berkata pada dirinya sendiri,
seperti ini: "Ini adalah kota yang baru,
aku adalah seorang asing disini;"


Sebaliknya, dia membayangkan
selalu tinggal di kota baru itu,
dilahirkan dan dibesarkan disitu.

Apakah mengherankan,
jika kemudian jiwa tak ingat lagi akan
kampung-halamannya dan tanah kelahirannya?

Karena alam-dunia ini,
bagaikan tidur, menyelimuti jiwa kita,
bagaikan awan menyelimuti bintang.

Apalagi saat ia melangkahkan kaki
ke berbagai kota dan debu yang menutupi
matanya belum dibersihkan.


Lagipula dia belum berupaya keras,
memurnikan hatinya;
sampai hatinya itu dapat
menatap masa lalu.

Bagaimana dia memasuki tataran alam material,
dan dari situ melangkah memasuki
tataran alam nabatiah

Lama dia tinggal di tataran alam nabatiah,
disitu tak diingatnya lagi tentang hidupnya
ketika tinggal di tataran alam material;
karena sifat-sifat ke dua tataran alam itu
yang saling bertentangan.

Dan ketika dia beranjak dari alam nabatiah
ke tataran alam hewaniah,
alam nabatiah pun tak lagi diingatnya.

Mungkin masih ada sedikit sisa kenangan,
khususnya ketika tiba musim semi
dan semerbak harum tetumbuhan.

Ini seperti kemelekatan bayi kepada ibunya,
sang bayi tak paham bahwa rahasia
dibalik hasratnya itu
adalah agar dia mendapat cukup susu-ibu.

Seperti itulah kemelekatan murid pemula,
yang keberuntungan jiwanya tengah muda
dan memekar,                                          [2]
kepada guru pembimbingnya

Akal personal sang pejalan
bersumber dari Akal Sejati:
gerak dari bayangan pohon-diri sang pejalan
bersumber dari gerak dahan Pohon Sejati.

Bayangan dan kepalsuan sang murid tanggal
dalam diri Sang Guru:
sehingga bagi Sang Guru jelas belaka
apa yang dicari sang murid pemula itu,
apa yang dihasratinya.

Takkan pohon kecil diri sang murid pemula bergerak
tanpa gerakan cabang Pohon Sejati Sang Guru.

Adalah karena Rahmat,
pertolongan, sang Pencipta,
ketika jiwa dikembalikan ke tataran insaniah,
naik dari tataran hewaniah.

Demikianlah kemajuan itu,
bergerak naiknya jiwa: tataran demi tataran;
sampai jiwanya jadi pandai,
bijak dan kuat.

Tentang tataran-tataran jiwa
yang telah dilaluinya,
belum lagi diingat orang itu.

Juga belum diketahuinya
ada kenaikan tingkat akal
yang menanti di depannya.

Bahwa dia harus tinggalkan nalarnya yang rakus
dan mementingkan diri sendiri,
dan bahwa membentang di atasnya seratus-ribu
jenis kecerdasan yang tak terbayangkan.

Walaupun kini dia tengah tertidur
dan lupa akan masa lalunya,
seorang pejalan sejati takkan dibiarkan
terus dalam kondisi lupa akan dirinya sendiri.

Dia akan dibangunkan dari tidurnya itu,
sedemikian rupa, sehingga nanti ketika terbangun
dia akan mentertawakan kondisinya sekarang,
yaitu saat tengah tertidur.

Dia akan berkata sendiri,
"Bagaimana bisa aku merasa sesedih itu?

Bagaimana mungkin aku terlupa akan
realitas yang sejati?

Bagaimana mungkin sampai tak kuketahui
bahwa segala kesedihan dan penyakit itu
karena aku tertidur; dan itu
sebenarnya mimpi dan khayalan saja?"

Catatan:
[1]  "Tertidur dan tengah bermimpi" adalah keadaan sebagian besar manusia. Dan baru terbangun (jiwanya) ketika mati.

[2]  "... yaa kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan dari langit hujan yang sangat deras ke atasmu, dan Dia menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu ..." (QS Huud [11]: 52)



Sumber:
Rumi: Matsnavi  IV: 3628 - 3653
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.