Jumat, 09 Oktober 2009

Iri-dengki: Lorong Sempit Tersulit

Jangan masuki lembah ini tanpa pemandu; [1]
ikutilah ucapan sang Khalilullah Ibrahim a.s, 
"... Aku tidak suka sesuatu yang tenggelam ..." [2]

Bertolaklah dari dunia bayangan,
raihlah matahari: 
berpeganglah ke lengan baju Lelaki
seperti Syamsi-Tabriz. [3]

Jika belum kau ketahui,
alamat pesta perkawinan seperti ini,
carilah Cahaya al-Haqq, Husamuddin. [4]

Ketika engkau tengah menempuh Jalan,
dan tenggorokanmu 
tercekik iri-dengki,
ketahuilah, itu ciri iblis;
dia melanggar batas karena iri-dengki.

Karena iri-dengkinya,
dia membenci Adam a.s;    [5]
dan karena iri-dengki pula
dia berperang melawan kebahagiaan.   [6]

Di dalam Jalan,
tiada lorong sempit yang lebih sulit 
daripada hal ini;
beruntunglah pejalan yang tidak membawa
iri-dengki sebagai teman.

Ketahuilah, ragamu adalah sarang iri-dengki;
para warga di dalamnya tercemari oleh iri-dengki.

Semula, raga ini Tuhan buat sangat murni,
tapi 
kemudian menjadi sarang iri-dengki.

Ayat-Nya, "... dan sucikanlah rumah-Ku ..." [7]
adalah perintah untuk memurnikan diri;
karena hanya di dalam qalb yang tersucikan
tersimpan 
harta-karun Cahaya Ilahiah,
itulah sejatinya Permata Bumi.

Jika tipu-daya dan iri-dengki
kau tujukan kepada seseorang 
yang tanpa iri-dengki,
maka asap gelap naik menghitamkan
qalb-mu.

Perlakukanlah dirimu bagaikan debu
di kaki para Lelaki Ilahiah,
seraya engkau benamkan iri-dengkimu ke tanah.


Catatan:
[1] Jangan menempuh jalan pencarian tanpa bimbingan seorang Guru Sejati

[2] QS [6]: 76.

[3] "Matahari dari Tabriz," pembimbing Mawlana Rumi ke Jalan pencarian Tuhan.

[4] Husamuddin, salah seorang murid kesayangan Mawlana Rumi,
bergelar "Zhiya ul-Haqq". Diriwayatkan bahwa dialah yang mencatat
ujaran-ujaran Mawlana Rumi yang kemudian dikenal sebagai Matsnavi.

[5] QS [38]: 76, "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan
aku dari api, 
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah,"
merupakan ucapan Azazil 
yang menjadi sumber pertama iri-dengki;
sejak itu dia terusir dan dikenal sebagai iblis.

[6] QS [38]: 82 - 83, "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan
mereka 
semuanya, kecuali abdi-abdi-Mu yang al-Mukhlashiin".
"Mukhlas" berbeda sekali artinya dengan "mukhlish." Silakan periksa http://ngrumi.blogspot.com/2011/12/mengkaji-mukhlish-dan-mukhlash.html

[7] QS [22]: 46.

Sumber:
Rumi: Matsnavi, I no 428 - 436,
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh 
Nicholson

1 komentar:

KISAH SUKSES IBU HERAWATI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.