Rabu, 31 Juli 2013

Kegaduhan Sebelum Waktu Sahur


Seorang lelaki memukul-mukulkan tongkat
ke gerbang pagar, di depan sebuah rumah-gedung besar,
sambil berseru, "sahur, sahur..."

Sedang dia asyik menabuh besi pagar,
seorang tetangga berkata kepadanya:
"Wahai peminta-minta,
sekarang belum masuk waktu sahur,
jadi jangan gaduh;

Lagi pula, wahai fakir, perhatikan lah,
tiada orang menghuni rumah itu,
isinya cuma setan dan hantu,
percuma saja kegaduhanmu.

Tak ada disitu telinga,
yang dapat mendengar tabuhanmu;
tak ada disitu akal,
yang dapat mengerti tujuanmu."

Lelaki pembuat kegaduhan itu menjawab,
"Kudengar perkataanmu,
kini perkenankan kujawab,
agar engkau tak heran atau bingung.

Walaupun menurutmu kini masih tengah-malam,
tapi kulihat fajar segera merekah.

Kulihat segala kekalahan segera berubah
menjadi kemenangan,
di mataku, semua malam segera kan berubah
menjadi siang.

Bagimu air Sungai Nil memerah,
bagiku itu bukan darah, tapi air segar.

Menurutmu, pagar besi ini keras;
tapi di tangan Dawud, ia lunak dan mudah dibentuk. [1]

Menurutmu, gunung itu kokoh dan mati,
tapi bagi Dawud, ia pandai bernyanyi.            [2]

Menurutmu, butiran kerikil itu bisu,
tapi bagi Mustapha ia fasih ber-tahlil.            [3]

Menurutmu batang kurma itu mati,
tapi bagi Mustapha ia bagai seorang kekasih
yang patah hati.   [4]

Bagi mereka yang jahil,
benda-benda di seantero semesta ini tampak mati,
tapi di hadapan Sang Pencipta, mereka berilmu,
dan tunduk pada kehendak-Nya.

Sedangkan mengenai ucapanmu,
"mengapa aku ribut memukul pagar,
sedangkan gedung ini kosong,
dengarkanlah penjelasanku:

Mengapakah kaum Muslim menginfakkan
hartanya bagi Rabb mereka, untuk mendirikan
masjid dan lembaga pengajaran?

Dan bagai pencinta yang mabuk,
bersuka hati mempertaruhkan jiwa dan harta
menempuh perjalanan haji?


Apakah pernah mereka mengatakan,
Baytullah itu kosong?
Tidak! Mereka tahu,
Rabb pemilik bayt itu Ghayb.

Apakah mereka yang pergi berhaji itu
pernah berkata: kami terus melantunkan 'Labbayka,'
tapi mengapa tak pernah memperoleh jawaban?

Tidak, Rahmat Ilahiah yang menyebabkan mereka
melantunkan 'Labbayka'  itu,
sebenarnya adalah jawaban yang setiap saat datang
dari yang Maha Tunggal.

Dalam bashirah-ku gedung ini adalah sebuah tempat
perjamuan bagi jiwa, dan debunya adalah sebuah ramuan.

Akan terus kupukulkan tongkatku
untuk mengaduk ramuan itu;               [5]
Sehingga dengan caraku membangungkan sahur ini,
Lautan Rahmat Ilahiah akan pasang-naik
dan melontarkan mutiara,
serta menyingkapkan khazanah-nya.

Lelaki sejati mempertaruhkan jiwa mereka
di medan perang dan bertempur demi Sang Pencipta.

Seperti yang dicontohkan Ayyub dengan cobaannya,
atau seperti Ya'qub dengan kesabarannya.

Ribuan orang, di tengah lapar-haus dan
kesedihan mereka, sekuat-tenaga berupaya beramal
demi keridhaan Rabb.

Aku juga demikian, demi Rahmat Ilahiah
dan harap akan ridha-Nya, memukul-mukul gerbang
membangunkan orang bersahur."

Wahai yang masih memiliki hati,
jika engkau berniaga dan berharap pembelimu
membayar dengan emas,
maka tak ada pembeli yang lebih baik daripada Rabb.

Dia menerima barang daganganmu yang kumuh,
dan memberimu suatu cahaya batiniah
yang cemerlangnya berasal dari Cahaya-Nya.

Dia menerima amal tak seberapa dari raga rapuh ini,
dan memberimu sebuah kerajaan
yang khayalanmu tak mampu bayangkan.

Dia menerima beberapa butir air-matamu,
dan melimpahkan Telaga Kautsar,
yang sedemikian lezat,
sehingga gula cemburu pada kemanisannya.

Dia menerima desah kesedihan
serta asap kerisauanmu,
dan mengganti setiap desah
dengan seratus kebanggaan.

Karena desah kesedihan
yang meniup awan air-mata,
Dia telah menyebut al-Khalil, sang pendesah.  [6]

Segera lepaskan barang palsumu yang lusuh
di pasar riuh-rendah tak-terbandingkan ini,
dan terima lah suatu kerajaan asli sebagai pembayaran.

Jika engkau masih juga ragu atau curiga,
berpeganglah kepada mereka yang ahli
perniagaan ruhaniyah: para nabi.

Sang Raja Sejati tak henti-hentinya meningkatkan
peruntungan mereka, tak ada satu pun gunung
sanggup memikul barang dagangan mereka.
 

Catatan:
[1]  QS [21]: 80.

[2]  QS [38]: 18

[3]  Merujuk ke Matsnavi jilid I, bagian yang menceritakan
bagaimana butiran kerikil di dalam genggaman tangan Abu Jahal
--yang  dimaksudkannya untuk menguji Rasulullah, saw--
malahan melantunkan tahlil.

[4]  Merujuk ke Matsnavi jilid I, bagian yang menceritakan
bagaimana sebatang pohon kurma, yang biasa dipakai bersandar
Rasulullah, saw, ketika mengajar, merintih--ketika diketahuinya
para sahabat membuatkan mimbar untuk menggantikannya.

[5]  Akan sekuat tenaga beramal dengan memanfaatkan raga
agar meraih keberhasilan di jalan pertaubatan.

[6]  "... inna ibrahima la-awwahuun..." (QS [9]: 114).


Sumber:
Rumi: Matsnavi VI: 846 - 887
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Senin, 29 Juli 2013

Sang Pemilik Kasih Tersembunyi


Sungguh hikmah yang mencengangkan:
Dia, Sang Kekasih dambaan hati,
telah membuatku tinggalkan kampung-halaman,
bergegas aku berjalan,
tapi malah kehilangan arah,
sehingga semakin menjauh dari tujuan;
lalu, Rabb dalam kasih-sayang-Nya,
membuat tersesatnya aku itu,
sebuah sarana untuk menapaki jalan yang benar
dan menemukan khazanah sangat bernilai.

Dia membuat kehilangan arah
sebuah jalan untuk mencapai keyakinan sejati.

Dia membuat tersasarnya seseorang
sebuah ladang perjuangan,
agar panen kebajikan dapat dituai;
sehingga tak ada hambanya yang shaleh,
merasa gentar;
sehingga tak ada yang sedang mendzhalimi
dirinya sendiri, kehilangan harapan.

Sang Maha Kasih telah anugerahkan penawar racun,
sehingga mereka yang paham menyebutnya:
Rabb  sang pemilik Kasih Tersembunyi.




Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 4339 - 4344
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga terdapat pada terjemahan versi
Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewels of Rememberance,
Threshold Books, 1996,
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.



  

Minggu, 28 Juli 2013

Tingkatkan Pencarianmu

Jika terus kau jaga harapanmu,
yang merindu pada Langit,
walau sampai gemetaran engkau
bagai daun diterpa angin,
maka air dan api ruhaniyah akan muncul,
dan meningkatkan kesejatianmu.

Tak diragukan lagi,
rindumu itu yang kan membawamu sampai ke sana.

Jangan hiraukan kelemahanmu,
yang harus kau jaga itu kedalaman rindumu.

Sesungguhnya pencarian ini
adalah janji Tuhan dalam dirimu,
karena setiap pencari layak dapatkan
apa yang dicarinya.

Tingkatkan pencarianmu,
sampai qalb-mu merdeka dari penjara
--yaitu ragamu sendiri.

Biarkan saja orang awam mengatakan,
"sungguh malang nasibnya, dia telah mati,"
mereka tak mendengar jawabanmu,
"sesungguhnya aku hidup, wahai orang lalai,

Walaupun, seperti raga yang lain,
tubuhku telah dikuburkan,
ke delapan surga memekar dalam qalb-ku."


Ketika jiwa bercengkerama di taman
penuh berbagai bunga indah,
tak perlu dirisaukan raga yang berkalang tanah.

Bagi jiwa yang telah tersucikan,
sama sekali tidak menjadi soal jika raganya
dimakamkan di kuburan indah atau seadanya.

Malah sebenarnya, dari alam jiwa nan penuh-warna,
dia berseru, "... seandainya saja kaumku mengetahui."   [1]

Jika jiwa tak memiliki suatu kehidupan yang berbeda
dari raga, lalu untuk siapakah Langit disiapkan
sebagai istana bagi kehidupan abadi?

Jika jiwa tak memiliki suatu kehidupan yang berbeda
dari raga, kepada siapakah ditujukan janji,
"Dan di  Langit terdapat rezekimu."             [2] 

Catatan:
[1]  QS YaSin [36]: 26.

[2]  QS Adz-Dzariyat [51]: 22.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  V: 1731 - 1742
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga terdapat pada terjemahan versi
Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewel of Rememberance
Threshold Books, 1996
yang bersumber terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Obat bagi Sang Pencinta

Obat bagi segala kegalauan intelektual
hanya lah sekilas Wajah Sang Kekasih,
semua wajah yang mempesonamu
tak lain adalah hijab-Nya.

Wahai pengabdi Sang Kekasih,
hadapkan lah wajah pada wajahmu sendiri:
ketahuilah pencari yang bingung,
tak ada engkau berkerabat
selain dengan dirimu sendiri.

Sang pencari sejati menghadap kiblat
pada masjid di dalam qalb-nya sendiri:
tak ada sesuatu pun bagi insan
kecuali apa-apa yang teruntuk baginya.

Sebelum didengarnya jawaban atas do'anya,
telah bertahun dia berdo'a.

Dia biasa berdo'a dengan khusyu,
tanpa didapatinya suatu hasil;
tapi secara rahasia, dari sisi Rahmat-Nya
yang penuh kasih, didengarnya jawaban:
Labbayka, Aku disini.

Sejak itu hidupnya bagaikan sebuah tarian
selaras iringin musik tak terdengar:
dia fakir yang menggantungkan diri
pada pencukupan dari Sang Pencipta nan Agung.

Walau tak terdengar didekatnya suara dari langit
atau hadir sesosok pun utusan Ilahiah,
tapi telinga dari harapannya dipenuhi dengan,
Labbayka, Aku disini.

Harapannya selalu berseru--tanpa lisan:
Datang lah;
dan seruan itu membasuh bersih
semua keletihan dari dalam qalb-nya.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 1982 - 1989
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson
dibandingkan dengan terjemahan versi
Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewels of Rememberance,
Threshold Books, 1996
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Jumat, 05 Juli 2013

Wafatnya Seorang Suci

Jiwamu kan terbang,
melesat tinggalkan penjara sempit,
menembus langit demi langit,
kau masuki suatu kehidupan baru,
tinggalkan hidup yang ini;
takkan pernah lagi kau merasa bosan.

Jika sebelumnya kau kenakan raga
yang bagaikan seragam seorang hamba-sahaya,
kini kau tampil sangat bergaya.

Bagimu kematian adalah kehidupan;
--yang jika dibandingkan dengannya--
kehidupan ini bagaikan kematian;
mereka yang terhijab takkan paham.

Semua jiwa yang tinggalkan raga,
tetaplah hidup,
namun tersembunyi;
jiwa yang tersucikan itu indah,
bagaikan malaikat.

Ketika raga menua dan ambruk,
janganlah engkau meratap.

Sadarilah, selama ini engkau terpenjara:
ketika kau temukan jalan untuk lolos,
dari sel di dasar sumur,
engkau tegak, gagah dan ningrat,
bagaikan seorang Jusuf.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz,  ghazal 3172
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Franklin D. Lewis,
dalam Rumi, Past and Present, East and West,
Oneworld Publications, Oxford, 2000.

Siapakah yang Tuli?

Yang berpanjang angan itu
seperti orang tuli:
sering didengarnya tentang kematian,
tapi itu tak membuatnya sadar
tentang kematiannya sendiri,
atau bersiap menghadapi ajalnya.

Tamak membuat orang buta:
kelemahan orang lain dicermati dengan teliti,
lalu disiarkan kemana-mana;
seraya sedikit pun tak menyadari
kelemahan dirinya sendiri.

Alangkah anehnya,
jika ada orang telanjang
tapi takut bajunya robek.

Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan,
sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya,
tapi dia takut hartanya disasar pencuri.

Orang lahir dengan polos
dan pergi dengan telanjang;
diantara dua kejadian itu,
kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas,
takut hartanya hilang.

Saat saat ajal tiba,
ketika ratusan orang meratap,
jiwanya sendiri mentertawakan ketakutannya.

Ketika itu, pecinta dunia baru sadar:
tak sedikit pun dia miliki emas-permata;
demikian pula, seorang yang cerdik sekali pun,
tahu dia tak bisa menyiasati.

Amatilah anak kecil yang bermain uang-uangan
dari pecahan tembikar:
ketika pangkuannya penuh,
gemetaran dia karena girang-hati
seakan itu uang yang asli.

Jika kau ambil sepotong, dia merengek,
jika kau kembalikan, segera dia tertawa.

Anak kecil belum memiliki pengetahuan,
karenanya, rengekan atau derai tawanya
hampa makna.

Seperti itu lah pencinta dunia,
yang menyangka apa-apa yang dipinjamkan
sebagai miliknya sendiri:
dia gemetar, cemas, meratapi kekayaan palsu.

Dia bermimpi:
cemas, gemetaran.
disangkanya harta duniawi pinjaman
sebagai miliknya sendiri.

Ketika sang Maut menyentak keluar jiwanya,
membangunkannya dari tidur panjang,
didapatinya ketakutannya selama ini
sedikit pun tak berarti.

Gemetaran pula seorang yang terpelajar,

yang kuasai aneka ilmu dan paham banyak hal
tentang dunia ini.

Tentang kaum cendekiawan yang mapan

dalam ilmu-ilmu tentang dunia ini,
al-Qur'an menyatakan, "mereka tidak memahami."

Mereka selalu takut orang lain menyita waktunya;

mereka anggap telah menguasai ilmu yang banyak.

Sering mereka berkata,

"orang-orang itu menyita waktuku;"
padahal sejatinya, berlalunya waktu tak membawa
manfaat kebaikan bagi diri mereka sendiri.

Atau mereka katakan,

"orang banyak telah mengalihkanku dari pekerjaanku
yang sangat penting;"
(seraya tak disadarinya) jiwanya sendiri kaku,
tak mampu bergerak.

(Mereka bagaikan) orang yang telanjang

sambil ketakutan dan berkata, "aku memakai jubah
yang panjang, aku harus menghindari mereka
yang tak hentinya menarik-narik jubahku."

Mereka hafal rincian ratusan-ribu data,

yang terkait dengan aneka pengetahuan dunia;
tapi sejatinya bodoh,
karena tak mereka kenali jiwa mereka sendiri.

Mereka pahami kekhususan aneka macam dzat,

tapi mengenai hakekat  diri mereka sendiri,
mereka sama dungunya dengan seekor keledai.

Mereka nyatakan,

"aku tahu apa yang dibolehkan dan apa yang dilarang;"
tapi pengetahuannya tentang apa yang boleh,
dan apa yang dilarang bagi diri mereka sendiri,
hanya berdasarkan prasangka atau kebodohan semata.

Wahai yang merasa mengetahui

tentang mana yang halal dan mana yang haram;
sudahkah kau pertimbangkan baik-baik
mengenai dirimu sendiri--apakah termasuk yang halal,
ataukah yang haram?

Bukankah suatu kebodohan,

jika kau ketahui harga bermacam barang dagangan,
sementara nilai dirimu sendiri tak kau ketahui?

Engkau pahami pengetahuan tentang bintang-bintang:

mana yang membawa kabar keberuntungan,
dan mana pembawa kabar buruk;
tapi kau tak pernah berupaya menelisik,
sebenarnya engkau itu termasuk yang beruntung,
atau sebaliknya?
Jiwamu belum tersucikan
dan karenanya kau sering bernasib buruk.

Kusampaikan disini inti tujuan ilmu sejati:

agar kau ketahui siapa sesungguhnya dirimu
pada Hari Perhitungan.

Kau telah akrabi asal-usul ad-Diin,

kini saatnya kau tengok dan cermati jiwamu
yang berada di dalam dirimu sendiri--
apakah telah indah?

Wahai insan,  jiwa yang telah tersucikan

adalah modal dasar yang menjadi landasan,
dalam mengamalkan ke dua warisan Rasulullah;
sampai kau di-Rahmati dengan pengenalan
akan hakekat dirimu sendiri.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  III: 2628 - 2635.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Selasa, 02 Juli 2013

Selamatkan Diri dengan Berniaga

Wahai makhluk duniawi yang suka berniaga,
dapatkah kau menjual sesuatu
manakala tak ada pembelinya?

Banyak pengunjung pasar yang hanya melihat-lihat,
tapi tak mampu membeli.

Mereka mondar-mandir,
pura-pura menawar,
hanya untuk habiskan waktu,
atau sekedar iseng.

Karena tengah bosan,
mereka berpura-pura tertarik daganganmu,
menanyakan padamu berapa harganya;
tapi sebenarnya tak ada yang mereka cari.

Barang dagangan diperiksanya berkali-kali,
tapi selalu dikembalikan kepadamu;
panjang-lebar kain dia ukur,
tapi tak ubahnya dia mengukur angin.

Sungguh jauh bedanya pendekatan
dan tawar-menawar seorang pembeli,
dengan keisengan seorang yang sedang bosan.

Karena tak dimilikinya harta sedikit pun,
ucapannya ingin membeli selembar baju
hanya bualan saja.

Dia tak punya modal untuk berjual-beli,
lalu apa bedanya orang malang ini
dengan sesosok bayangan?

Modal berjual-beli di pasar alam-dunia ini
adalah emas;
sedangkan modal untuk alam-akhirat
adalah cinta dan berurai-basahnya
ke dua matamu.   [1]

Barangsiapa pergi ke pasar tanpa modal,
maka hidupnya berlalu tanpa terasa,
lalu dia kembali dengan cepat
dengan penyesalan mendalam.

Ketika ditanyakan padanya:
"Wahai saudaraku, kemana saja engkau pergi?"
(jawabnya): "tak kemana-mana."               [2]

"Hidangan apa saja yang telah kau cicipi?"
(jawabnya): "tak ada yang lezat."               [3]

Jadi lah seorang pembeli,
maka akan terulur tangan-Nya padamu,
menawarkan sesuatu;                                  [4]
maka harta karun-Nya yang berlimpah-ruah
akan memunculkan merah delima.            [5]

Jika sang pembeli sedang lalai atau meredup,
maka seru lah kepada Diin yang Haqq,
karena perintah untuk menyeru telah diturunkan.

Terbanglah wahai rajawali,
tangkaplah merpati ruhaniyyah:
ketika menyeru kepada Rabb,
ikuti lah jalan Nabi Nuh a.s.                      [6]

Mengabdi lah bagi-Nya semata;
tak perlu engkau pedulikan penerimaan
atau penolakan manusia.


Catatan
[1]  "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya
dua buah mata"
(QS al Balad [90]: 8)

Juga mengingatkan kepada hadits tentang 3 hal yang
Rasulullah SAW cintai di dunia ini, yang menjadi pokok bahasan
Fash Muhammadiyya (Ibn al-'Arabi, Fushush al-Hikam).

[2]  Selain susah bergerak secara fisikal di alam dunia,
ini juga berarti "jiwanya tak kemana-mana, karena terpenjara
di dalam raganya sendiri."

[3]  Ini juga berarti "jiwanya tak pernah mencicipi lezatnya
hidangan ruhaniyyah;" yang disediakan bagi mereka yang bertaubat.

[4]  "Wahai orang-orang yang beriman, sukakah engkau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itu lah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan ampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan ke tempat yang baik di jannah 'Adn. Itu lah keberuntungan yang besar. Dan karunia yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada kaum al-mukminiin."
(QS Ash-Shaff [61]: 10 - 13)

[5]  Lihat http://ngrumi.blogspot.com/2010/10/khazanah-tersembunyi.html

[6]  Kesabaran luar-biasa yang diteladankan Nabi Nuh a.s. ketika menyeru kaumnya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun ..."  (QS Al 'Ankabuut [29]: 14)


Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 831 - 845
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.