Sabtu, 26 November 2016

Suatu Fajar Bersama Sang Rembulan



Rembulan muncul di langit fajar.
Mengambang turun ia, seraya menatapku.

Lalu, bagai seekor elang menyambar mangsanya,
     ia mencengkeramku
     dan menyeretku ke angkasa.

Walau kucoba sekuat tenaga,
tak mampu aku melihat diriku sendiri.

Berkat keajaiban cahaya rembulan,
telah lebur diriku kedalam jiwa murni.

Dalam bentuk itu lah pengelanaanku berlangsung,
bersatu dalam cahaya tak-terbatas.

Lalu, rahasia dari pertunjukan abadi
tergelar jelas di hadapanku.

Ke sembilan sfera langit,
terliputi oleh cahaya.

Wahana-jiwaku,
melayang di Samudera tanpa pantai.

Tiba-tiba samudera wujud
beralih bentuk menjadi gelombang demi gelombang.

Fikiran timbul:
imaji bentuk bagai gelombang memecah di pantai.

Lalu semuanya kembali seperti semula:
bersatu dalam jiwa yang murni.

Keberuntungan berupa penglihatan ini
berasal dari Syamsudin al-Haqq dari Tabriz.

Tanpa kepemurahannya,
tak ada yang dapat menunggang rembulan
atau menjadi samudera tanpa batas.



Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal #649.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Jontahan Star,
dalam In the Arms of the Beloved, TCE,  Penguin Group (USA), 20008.