Senin, 22 Desember 2014

Ku kan Berlari Cepat

Ku kan berlari cepat,
dan takkan ku berhenti,
sampai aku bergabung dengan kafilahku.  [1]

Ku kan lebur bagai udara
dan musnah,
hingga Sang Kekasih meraihku.

Menyala gembira hatiku,
bagai api yang memusnahkan rumahku,
lalu berkelana aku ke gurun.

Aku akan menjadi debu
di tanah padang yang tandus
sampai Kau buat aku menghijau teduh.  [2]

Aku akan mengalir
merendah bagaikan air
bersujud sepanjang jalan
menuju ke taman-mawar-Mu.

Sejak aku jatuh dari langit             [3]
gemetaran aku bagai butiran debu.
Aku baru aman dan tenang           [4]
jika kucapai Tujuan.                  

Kudapati langit penuh hal mengerikan
dan bumi tempat kehancuran;
aku kan selamat dari ke dua bahaya ini
ketika kuraih Sang Sultan.             [5]

Di alam-dunia yang tersusun dari tanah dan air ini

bercampur-baur kekufuran dan kehancuran,
kulewati hati penuh kemusyrikan
agar kucapai keimanan.

Sang Raja penguasa semesta alam
yang menjaga kesetimbangan dan keserasian,
memandang kepada pencinta yang seimbang--

Kudamba wajahku bersinar kekuningan  [6]
bagai kilau mata-uang emas                          
sehingga ditempatkan-Nya aku
dalam keseimbangan-Nya.

Rahmat-Nya bagaikan air,
mengalir ke tempat yang rendah.
Aku kan menjadi debu
agar teraliri Rahmat-Nya
supaya ditarik aku menuju ar-Rahim.


Takkan seorang tabib
merawat dan meracik obat
jika tak ada penyakit.

Sekujur diriku--lahir dan batin--sakit  [7]
agar kuraih tangan
Sang Penyembuh.


Catatan:
[1]  "Maka kemana kah kau akan pergi?"
(QS at-Takwir [81]: 26)

"Sesungguhnya ku kan menghadap kepada Tuhanku,
kiranya Dia menunjukiku."

(QS ash Shaaffaat [37]: 99)

[2]  Curahan air pengetahuan ketuhanan dari langit hakiki
membuat bumi diri sang mukmin menghijau,
"Tidak kah kau lihat bahwa Allah menurunkan air dari langit
lalu jadi lah bumi itu hijau..."

(QS al Hajj [22]: 63)

[3]  Salah satu makna dari
"Turun lah kalian bersama-sama..."
(QS Thaahaa [20] 123)

[4]  "... yang megamankan mereka dari ketakutan."
(QS al Quraisy [106]: 4)

[5]  "... dan adakan lah bagiku dari sisi Engkau suatu
kuasa (sulthan) yang menolong."

(QS al Israa [17]: 80)

[6]  Warna wajah sejati orang yang dilimpahi kahikat pengetahuan
ad-Diin ke qalb-nya.

[7]  "dan bila aku sakit, Dia lah yang menyembuhkanku."
(QS asy Syu'araa  [26]: 80)



Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz  ghazal 1400
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William C. Chittick
dalam "The Sufi Path of Love-The Spiritual Teachings of Rumi"
The State University of New York, Albany, 1983.

Dibandingkan dengan terjemahan oleh
Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi
dalam "Rumi: Hidden Music"
HarperCollins Publishers Ltd, 1983.


Sabtu, 13 Desember 2014

Lukanya tak Tampak

Sang Kekasih adalah seorang Raja
tapi singgasananya tersembunyi.

Al-Qur'an sampaikan Kebenaran
tapi keajaibannya terbungkus rapi.

Anak-panah Cinta menembus
hati setiap pencinta,

Darahnya menetes, senantiasa,
tapi lukanya tak tampak.


Sumber:
Rumi: Rubaiyat #210
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi,
dalam Rumi: Whispers of the Beloved,
HarperCollins Publisher Ltd, 1999.

Minggu, 07 Desember 2014

Seandainya Sempat Kau Kenali

Seandainya sempat kau kenali
dirimu sendiri,
walau sekejap.

Seandainya sempat kau tatap

--walau sekilas--
keindahan wajah sejatimu sendiri.

Maka takkan lagi kau tertidur

didalam campuran lempung dan air ini,
bagaikan seekor hewan:
kau kan bertolak ke rumah kebahagiaan
bersama jiwa-jiwa nan indah.

Kau harus telusuri jalan

sampai ke sudut-sudut terjauh dirimu sendiri,
agar diri sejatimu terejawantahkan;
karena Khazanah Tersembunyi
masih tersimpan di dalam dirimu.

Seandainya engkau hanya terdiri

atas sesosok tubuh,
maka takkan pernah kau dengar kabar
mengenai jiwa
seandainya engkau hanya jiwa saja
maka engkau sudah dalam kebahagiaan
bersama dirimu sendiri.

Seperti orang lain kau berhadapan

dengan kebaikan dan kejahatan;
kau hadapi semua itu 
dengan apa yang ada pada dirimu.

Seandainya engkau itu suatu jenis sayuran,

maka kau miliki suatu cita-rasa khas;
seandainya engkau itu sebuah periuk
maka ada panas yang pas 
untuk membuatmu mendidih.

Seandainya dengan putaran pemurnian itu

kau berhasil tersucikan
maka kau akan tinggal
di puncak Lelangit
bersama mereka yang suci.

Kepada semua citra

yang terbentuk dalam alam-khayal-mu
akan kau sampaikan:
"Salam wahai jiwaku,
Salam wahai semestaku."


Ketika citra-citra itu menghilang

maka engkau, engkau sendiri lah
yang menjadi jiwa
yang menjadi semesta.

Cukup lah sekian,

kata-katamu telah menjadi rantai
pengikat akalmu sendiri.

Jika tak terantai kata-kata itu,

kau tak lain daripada lisan murni
yang menyuarakan Akal Sejati.

Cukup lah sekian,

karena ilmumu menghijabi
lapis-lapis ilmu yang lebih dalam--
seandainya kau kenali Raja dalam dirimu
mengapa betah kau bertahan
hanya menjadi seorang penerjemah?


Catatan
Silakan periksa puisi-puisi lain yang terkait dengan ghazal ini,

Khazanah Tersembunyi


Buncis Rebus


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 3003
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Willam Chittick
dalam  The Sufi Path of Love,
SUNY Press, Albany, 1983.

Selasa, 02 Desember 2014

Cinta itu Lautan Tak Bertepi

Cinta itu
lautan tak bertepi,
di atasnya lelangit bagai serpihan buih belaka;
yang gelisah,
bagai Zulaikha dambakan seorang Yusuf.

Ketahui lah, roda pemutar lelangit
digerakkan oleh gelombang Cinta:
bila bukan karena Cinta,
semesta kan membeku.

Bagaimana yang semula benda mati,
berubah menjadi tumbuh-tumbuhan?

Bagaimana tetumbuhan mengorbankan diri
agar dilimpahi ruh?

Bagaimana ruh mengorbankan diri
demi sebuah Hembusan;
yang kelembutan tiupannya
pernah menghamili seorang Maryam?

Semuanya akan kaku membeku bagai es,
tak akan terbang menjelajah seperti belalang.

Setiap zarah tengah jatuh cinta
pada Kesempurnaan itu,
dan bergegas tumbuh
bagai berkecambahnya tunas.

Bergegasnya mereka
adalah sebuah takbir  batiniah.

Mereka memurnikan diri
demi menyambut Sang Ruh.



Sumber:
Rumi: Matsnavi V: 3853 - 3859
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Nicholson.

Minggu, 30 November 2014

Sebuah Do'a Pemberian-Mu

Wahai Rabb,
sungguh Rahmat-Mu tercurah
bukan karena amal kami,
tapi karena limpahan-Mu
yang penuh rahasia.         [1]

Genggam lah ke dua tangan kami,

selamatkan kami dari apa-apa 
yang ke dua tangan kami telah lakukan;
angkat lah hijab kami kepada-Mu,
dan jaga lah hijab kami 
agar tak robek,
itu akan 
mempermalukan kami.   [2]


Selamatkan kami dari keakuan diri;

tajamnya bagai ujung pisau
yang menusuk ke tulang kami.

Wahai Sang Raja,

yang tak bermahkota, tak bertahta,
siapa kah yang dapat lepaskan 
rantai pengikat ini,                   [3]
dari diri kami yang tak berdaya?

Siapa kah yang se-Pemurah Engkau,

wahai Maha Pengasih,
yang dapat membebaskan kami
dari penjara sekuat ini?            [4]

Palingkan lah wajah kami

dari menghadap ke diri sendiri
menjadi menghadap kepada-Mu;
karena sesungguhnya Engkau 
lebih dekat kepada Kami
daripada diri kami sendiri.   [5]

Bahkan do'a ini

pemberian-Mu kepada kami.

Bagaimana mungkin sebuah taman mawar

tumbuh dari abu ini?

Hanya dengan melalui kemurahan-Mu,

pengertian dan pemahaman dapat disampaikan
kepada sosok yang terbentuk dari darah dan daging.

Sehingga melalui sepasang mata

terpancar gelombang cahaya 
yang dapat menjangkau langit.

Melalui sepotong lidah

dapat mengalir kata-kata penuh hikmah,
laksana aliran sungai.

Melalui sepasang telinga

dapat tertangkap kabar tentang sebuah taman
bagi jiwa yang ber-akal;
penuh dengan buah-buahan kecerdasan.

(Bawa kami ke) perjamuan utama 

berupa jalan raya menuju taman bagi jiwa-jiwa;
kebun dan taman di alam-dunia ini
adalah cabang dan bayangannya.

Itu lah mata air sumber kebahagiaan sejati:

mari lah kita men-dzikir-kan ayat,
"taman yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai..."                 
[6]




Catatan:
[1]  "Katakan lah, bersama dengan fadhillah Allah dan
bersama dengan rahmat-Nya, hendak lah bersama dengan itu
mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka
kumpulkan."

(QS Yunus [10]: 58)

"Apa-apa yang di sisimu lenyap,
dan apa-apa yang di sisi Allah kekal..."

(QS An Nahl [16]: 96)

[2]  "Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa
bersandar 
kepada amal-amalnya adalah kurangnya
rasa harap
 di sisi wujud yang zalal."


Rasa harap, kepada rahmat-Nya.

wujud yang zalal, 
berarti alam semesta, yang fanin, ciptaan.

(Ibn Atha' Allah al-Iskandari: al-Hikam, bahasan #1,
terjemahan oleh Zamzam AJT, 2012).

[3]  Tentang rantai, lihat

[4]  Penjara keber-ada-an.

[5]  "... Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat-lehernya."

(QS Qaaf [50]: 16)


[6]  Tentang "jannah," terdapat dalam banyak ayat.


Sumber:
Rumi: Matsnavi II: 2443 - 2455
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Dibantu dengan terjemahan oleh Kabir Helminski.

Kamis, 14 Agustus 2014

Sebuah Panggilan dari Semesta tak Kasat Mata

Seekor merpati,
yang masih belajar terbang,
mendadak membelah udara,
melesat ke angkasa
--ketika didengarnya sebuah siulan:
sebuah panggilan
dari semesta tak-kasat mata.

Ketika Sang Kekasih,
dambaan segenap semesta
mengirimkan utusan yang berkata,
"Kembali lah kepada-Ku,"
tak pelak lagi jiwa si murid langsung terbang.

Tak mampu dia tahan lonjakan ke atas,
ketika sayapnya diberi tarikan seperti itu;
tak mampu dia cegah,
ditembusnya hijab raga
ketika datang pesan seperti itu.

Sungguh mencengangkan,
Rembulan yang menarik semua jiwa itu.

Sungguh mencengangkan,
Jalan rahasia, yang melaluinya,
jiwa-jiwa itu dilintaskan.

Kasih sayang Ilahiah berkirim pesan,
"Kembali lah kemari,
karena di dalam penjara sempit itu
jiwamu berguncang gelisah.

Tapi seperti di dalam rumah tanpa pintu,
kau bagaikan burung tanpa sayap;
kau yang seharusnya melayang di udara
telah terjatuh begitu rendah.

Akhirnya, kegelisahan membuka pintu
welas-asih: terus kepakkan sayapmu
ke arah pintu dan atap semesta
--itu lah kuncinya.

Sampai engkau menyeru kepada-Ku,
takkan kau ketahui jalan kembali,
karena hanya melalui kehendak Kami
jalan menjadi nyata bagi akalmu."

Apa saja yang ditarik
ke arah semesta di atas sana:
jika sebelumnya tua,
dia akan kembali muda.

Apa pun yang turun ke sini,
bersama waktu dia akan
menjadi usang.

Karena itu, teguh lah engkau
menghadap ke semesta tak-kasat mata,
jangan menoleh ke belakang;
tegak lah dalam perlindungan Tuhan,
di sanalah terletak semua perbaikan
dan keberuntungan.

Kini, diam lah,
bertolak lah menuju Sang Guru Sejati,
yang menuangkan ke cangkir-jasadmu
anggur murni dari sisi-Nya.



Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 791
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry
dalam Mystical Poems of Rumi 1
The University of Chicago Press, 1968.

Kamis, 07 Agustus 2014

Rahmat-Nya yang Tersembunyi

Engkau bagai Langit
dan aku seperti Bumi,
yang terpesona pada apa-apa
yang Kau tumbuhkan dalam hatiku.



Haus aku, kering bibirku,
hanya rahmat-Mu berupa hujan
yang dapat mengubah bumi 
menjadi sebuah taman mawar.

Karena-Mu ia mengandung sesuatu
dan Engkau lah yang tahu bebannya.

Ia bergetar, ia berputar, ia merintih,
ia melahirkan suatu dambaan Ilahiah.

Sang Kekasih merawat pecinta-Nya
dan melimpahi mereka bermacam hidangan.

Terkadang diikat-Nya mereka
dengan tali nalar fikiran;
kali lain dibebaskannya mereka agar menari.

Pandang lah taman penuh aneka bunga,
tak mampu mereka menahan luapan kegembiraan.

Pandang lah kuasa Ilahiah Sang Tunggal
mengubah tanah lempung hina 
menjadi bentuk yang anggun.

Semua yang kita tatap ini adalah hijab
dari Matahari yang tak pernah tenggelam itu;
Matahari yang sudah ada sejak awal,
dan dengan diam-diam
--pada saatnya--akan Dia ungkapkan
apa-apa yang telah ditanam.



Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 3048
Terjemahan Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi
dalam Rumi: Hidden Music
HarperCollins Publishers Ltd, 2001

Rabu, 06 Agustus 2014

Bernyala Tanpa Bayangan

Ketika melalui kefakiran ruhaniyah
seseorang dirahmati dengan
kematian dari dirinya sendiri,
meneladan sang Nabi saw;
dia kehilangan bayangannya.

Menjadi fana, 
sesuai sabda sang Nabi,
"kefakiran adalah kebanggaanku."

Dia jadi tak memiliki bayangan,
bagaikan nyala sebatang lilin.

Ketika lilin telah seluruhnya menyala
dari kepala sampai ke kaki,
bayangan tak dapat menghampirinya.

Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri
dan dari bayangannya menuju terang benderang,
demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya.

Ketika kepadanya Tuhan berkata,
"Kubentuk engkau agar fana;"
dia menjawab, "Karenanya aku berlindung
didalam fana."



Catatan:
Fana: secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah
Rabb, lihat QS [55]: 26 - 27.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  V: 672 - 676
Berdasarkan terjemahan Camille dan Kabir Helminski,
dalam Rumi: Jewels of Rememberance,
Threshold Books, 1996;
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monasra.

Senin, 04 Agustus 2014

Istimewanya Al-Fatihah

Al-Fatihah itu istimewa
didalam 
menarik kebaikan
dan menghindarkan kejahatan.

Jika apa saja selain Tuhan tampil padamu,
itu dampak dari khayal-Nya;
dan jika apa saja yang selain Tuhan
lenyap dari pandanganmu,
itu karena dibangunkan-Nya engkau
kepada apa yang haqq.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 3355 - 3356
Terjemahan Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewels of Rememberance"
Threshold Books, 1996
Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Sabtu, 12 Juli 2014

Alunan Musik Tersembunyi

Jangan lah kau cemas
jika seutas dawai harpamu putus,
karena akan muncul
ribuan pengganti.

Dalam genggaman jemari Cinta
semuanya menjadi musik indah.

Wahai kawanku,
jika semua harpa dan seruling dunia terbakar,
masih ada sebuah harpa tersembunyi.

Nada dan iramanya
melayang sampai ke surga,
tapi tak sedikit pun terdengar
oleh telinga yang tuli.

Jangan lah kau khawatir
jika semua lampu dan lilin dunia padam,
karena batu-api sumbernya
tetap terjaga.

Musik yang kita dengar itu
ibarat buih yang mengapung
di permukaan samudera wujud,
sementara sang mutiara tetap tersembunyi
di kedalaman.

Tapi kelembutan dalam musik
bersumber dari mutiara tersembunyi itu--
karena pendar cahayanya juga menyinari kita.

Alunan musik hanyalah suatu ranting
dari kerinduan akan penyatuan--
dan tidak lah ranting dan akar
setara.

Karenanya, katupkan mulutmu,
hentikan lah aliran kata-katamu;
buka lah jendela hatimu:
dan bercakap lah dengan jiwa-jiwa suci.

Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no 110
terjemahan ke Bahasa Inggris
oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi
dalam Rumi: Hidden Music;
dan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Ibrahim Gamard.

Rabu, 25 Juni 2014

Dengarkan lah, ke Arah Mana Ia Berayun

Terpuji lah yang Maha Suci,
sang Pencipta yang Gaib:
dibangunnya istana Sabda.

Ketahuilah, sabda itu bagaikan suara pintu
yang terdengar dari istana rahasia;
coba lah untuk mencermati,
apakah itu suara pintu yang tengah membuka
atau menutup.

Suara pintunya dapat didengar
tapi pintunya sendiri tak tampak:
kau dengar suara pintu itu
tapi pintunya sendiri tak terlihat.

Ketika alunan nada dari harpa kebijaksanaan
mulai terdengar berdenting,
cermati baik-baik: ke arah mana
Pintu Surga tengah berayun.

Karena letakmu jauh dari pintu itu,

dengarkan lah suaranya dengan penuh perhatian.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 3481 - 3485
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille
dan Kabir Helminski,
dalam Rumi; Jewels of Rememberance
Threshold Books, 1996
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Selasa, 29 April 2014

Kebajikan Air

Diturunkan air berbentuk hujan
dari langit penuh bintang,           [1]
agar ia membersihkan kotoran
dan ketidak-murnian.

Pandang lah bagaimana air
membasuh ketidak-sucian;
dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan
air itu sendiri dan ketidak-murniannya.
Tak diragukan lagi,
Allah Maha Tinggi itu paling Murni
dan Suci.

Ketika air memerangi ketidak-murnian
dan menjadi kotor - sedemikian rupa         [2]
sehingga tak bisa lagi ia membersihkan -
Allah Maha Penyayang membawanya
ke Samudera Kebenaran: disana
Hakikat Air memurnikannya kembali.       [3]

Tahun berikutnya,
dia akan datang kembali,
memakai jubah yang bersih,         [4]
panjang menjuntai.

Bertanya Bumi kepadanya,
"Kemana saja engkau pergi?"

Dan dia menjawab,
"Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis.

Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini,
Lalu aku dimurnikan.

Dipakaikan padaku
jubah kehormatan.
Lalu kembali aku ke Bumi."

"Kemari, menghampirlah kemari,
wahai semua yang kotor:
diriku kini telah mengambil sesuatu
dari sifat Allah,

Akan kuterima kotoranmu
dan kan kuganti dengan kesucian
bagaikan digantinya setan dengan malaikat.

Dan ketika diriku terkotori,
aku kan pergi ke tempat di Langit itu,
ke sumber semua kemurnian.

Akan kutanggalkan semua pakaian kotorku,
dan Dia akan kembali memberiku jubah
kehormatan yang murni.

Pada apa yang kukerjakan,
Dia lah yang bekerja.
Dan yang harus dipuji adalah Allah:
Rabb, Tuhan, semesta alam-alam."   [5]

Jika tak ada dosa dan salah kita
takkan air dimuliakan.

Kerja air itu bagaikan orang
yang mengambil sekantung emas,
lalu berkeliling kemana-mana, seraya
bertanya, "siapakah yang sedang tak berharta?"  [6]

Ia tercurah pada tanaman yang sedang tumbuh,  [7]
atau membersihkan wajah yang kotor.   [8]

Atau dipanggulnya kapal,
yang sedang tak berdaya
di atas kepalanya.           [9]

Ratusan-ribu jenis obat
terkandung di dalamnya;
karena semua jenis obat
ditumbuhkan olehnya.      [10]

Inti dari semua mutiara       [11]
dan jiwa dari semua biji       [12]
dimurnikan dalam aliran air
bagaikan pasien disembuhkan di klinik.

Terdapat nutrisi di dalamnya
bagi para yatim dari Bumi
dan ada gerakan darinya
bagi semua yang telah kering-kerontang
dirantai dan terpenjara.

Ketika batas kemampuannya terlewati
ia menjadi kotor,
ia lelah: seperti kita semua,
di Bumi.

Ketika air telah menjadi kotor,
ia memohon pertolongan kepada Allah
yang Maha Agung Maha Terpuji.

Dari inti dirinya,
naik lah sebuah permohonan menyayat:
"Wahai Tuhanku,
apa-apa yang sudah Kau anugerahkan padaku
telah semuanya kuberikan,
kini aku bagaikan seorang pengemis fakir.

Telah kutebarkan semua pemberianmu
kepada mereka yang murni atau pun kotor.
Wahai Raja sumber semua kebaikan,
masih adakah tambahan?"        [13]

Bersabda Tuhan kepada awan,
"Bawa lah air ke sumber kebahagiaan;"
dan kepada matahari,
"tarik lah air ke atas."

Tuhan menuntunnya melalui berbagai aliran
sampai dia mencapai Samudera tak-terhingga.

Air yang kubahas ini
adalah ibarat bagi jiwa para waliyullah,
yang menjadi pembersih bagi dosa
dan kesalahanmu.    [14]

Ketika ia tercemari
karena mencuci kotoran para penghuni Bumi,
ia kembali ke Langit
menghadap sang Pelimpah Kemurnian.

Lalu datang kembali,
mengenakan jubah kehormatan,
ia turun membawa pengajaran,
dari sumber mulia itu,
tentang kemurnian Allah
yang Maha Meliputi.

Ia mensucikan tanpa debu,  [15]
ia meluruskan arah para pencari kiblat  [16]
tanpa perlu ditanya.

Ia melemah karena bercampur-baur
dengan manusia.         [17]

Karena itu ia merindu perjalanan
agar disegarkan kembali
(bagai ucapan Rasulullah): 'Wahai Bilal,
segarkan lah kami;      [18]
Wahai Bilal yang merdu suaranya,
naiklah ke atas menara
dan lantunkan panggilan keberangkatan
sebuah perjalanan.'     [19]

Jika sungguh tegak sebuah shalat,   [20]
melesat jiwa dalam sebuah perjalanan.
Karena itu, ketika kembali
ia mengucapkan salam.   [21]

Ujaran ini memakai ibarat
sebagai perantara;
itu yang diperlukan awam
agar dapat mengerti.

Tanpa ada yang memperantarai panasnya api
tak ada yang bisa masuk ke dalamnya;
kecuali seekor salamander.  [22]

Karena engkau bukan seorang Ibrahim,  [23]
kamar-mandi uap yang panas itu
bagaikan seorang utusan bagimu,
dan air lah yang menjadi pemandu untukmu.

Kepuasan sepenuhnya berasal dari Rabb,
tapi manusia yang terbuat dari tanah
takkan puas tanpa diperantarai sepotong roti. [24]

Rabb  itu Maha Indah,
tapi manusia tak mampu memahami
keindahan tak-terhingga,
tanpa diperantarai indahnya jannah.


Jika raga tak lagi menjadi perantara
yang menengahi,
maka akan dilihatnya rembulan purnama
menyala di dadanya;     [25]
tanpa ditutupi hijab lagi,
bagaikan seorang Musa.   [26]


Kebajikan air menyaksikan
bahwa hakihat di dalam dirinya
adalah limpahan Rahmat Allah.


Catatan:
[1]  Dari langit pertama, langit alam dunia.
"dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu rijzasy-syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya pijakanmu."

(QS Al Anfaal [8]: 11) 

[2]  "Menjadi kotor," adalah kondisi air setelah menjadi sarana
berwudhu seorang muslim saat sang muslim akan bershalat.
Pada tataran yang lebih dalam, Nicholson menerangkan,
jiwa seorang waliyullah murni seperti air suci; dan bagaimana
ketika terkotori karena persentuhan dengan dosa manusia,
lalu kemurniannya diperbarui dengan melebur kepada Tuhan.

[3]  "Hakikat Air:" Dia yang Maha Suci dan Mensucikan.

[4]  Jubah takwa, pakaian takwa, yang disematkan kepada
jiwa yang bertakwa.

[5]  Alhamdulillahir-rabbil-alamiin.  (QS [1]: 2)

[6]  Menjadi sarana dalam menebarkan Rahmat-Nya.

[7]  Secara lahiriah menyuburkan tanaman.
Arti pada lapisan yang lebih dalam: menaikkan tingkat
atau tataran jiwa para manusia (yang diasuh sang wali).

[8]  Secara lahiriah, bagian dari rukun berwudhu.

Arti pada lapisan yang lebih dalam: memutihkan wajah,
membantu membersihkan dosa yang semula mengotori
kalbu pada manusia.

[9]  Membantu mengangkat beban mereka yang tengah
berjuang melawan keraguan dan keputus-asaan.

[10] "... dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ..."
(QS [21]: 30)

Dari "Air suci" yaitu jiwa sang wali ditumbuhkan berbagai obat
penyembuh aneka macam penyakit pada jiwa manusia.

[11] "Mutiara," Khazanah Tersembunyi pada diri insan
yang telah berhasil ditemukan dan diejawantahkan.

[12] "Bibit," Khazanah Tersembunyi pada diri insan yang masih
tersembunyi di inti hatinya.

[13] "Masih adakah tambahan?"  lihat QS [50]: 30.

[14] Jiwa waliyullah menjadi sarana Allah mensucikan
dosa para makhluk yang bertaubat.

[15] Bandingkan dengan cara ber-tayamum, berwudhu dengan
debu saat air tiada.
Jiwa para waliyullah membantu mensucikan dosa pada hati
manusia tanpa perlu dibantu sarana lain.

[16] Membantu para pencari agar menuju Wajah-Nya semata.

[17] Seperti air yang menjadi kotor karena dipakai membasuh,
demikian pula jiwa para waliyullah yang melemah karena
membasuh dosa para manusia.

[18] Sahabat Bilal, muadzin Rasulullah saw.

[19] Adzan, panggilan untuk menghadap kepada-Nya.

[20] Shalat itu mi'raj-nya kaum yang beriman paripurna.

[21] Salam, tanda kembali dari perjalanan menghadap,
kembali dapat berinteraksi dengan makhluk.

[22] "Salamander," ibarat untuk para nabi, para waliyullah,
orang suci yang hidup dalam api ujian Allah.

[23] "... Wahai api, jadi lah sejuk dan jadi lah keselamatan
bagi Ibrahim."
  (QS [21]: 69)

[24] Aspek raga dari insan, yang berasal dari tanah, hanya dapat
dipuaskan oleh sesuatu yang berasal dari Bumi pula.
[25] Terang cahaya iman.

[26] "Dan masukanlah tangamu ke leher bajumu, niscaya ia
akan keluar putih bersinar..."
 (QS [27]: 12) adalah salah satu
tanda kenabian Musa as.

Disini Rumi membantu menerangkan bahwa putih terangnya
tangan nabi Musa setelah menyentuh dadanya
adalah sedikit isyarat yang diizinkan-Nya menjasad dari putih
cemerlangnya cahaya iman di dalam dada sang nabi.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  V: 199 - 235
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris
oleh Ibrahim Gamard dan Nicholson.

Sabtu, 29 Maret 2014

Jebakan dengan Umpan Hasratmu Sendiri

Mengikuti hasratmu sendiri
artinya melarikan diri dari Tuhan,
dan menumpahkan darah ruhaniyah
di hadirat Keadilan-Nya.

Dunia ini sebuah jebakan
dan hasratmu itu umpannya;
hindari jebakan,
hadapkan lah wajahmu kepada-Nya.

Jika kau ikuti Jalan,
ratusan keberkahan bersamamu;
sedangkah jika kau menuju arah sebaliknya,
buruk nasibmu.

Karenanya, sang Nabi berkata,
"dengarkan nuranimu
walaupun para ahli agama
menasehatimu untuk urusan duniamu."

Tanggalkan hasratmu,
agar terungkap Rahmat-Nya.

Dari pengalamanmu sendiri
jelas lah bahwa semua kebaikan
menuntut pengorbanan.

Karena kau tak mungkin menghindar
dari dunia,
jadi lah hamba-Nya;
dan keluarlah dari penjara-Nya
menuju taman-Nya.

Ketika terus kau awasi
pikiran dan tindakanmu,
akan selalu kau saksikan Keadilan
dan Sang Hakim;

Walaupun kelalaian masih menutup pandanganmu
tidaklah itu mencegah Sang Matahari bersinar.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 3777 - 3784.
Terjemahan ke Bahasa Inggris
oleh Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewels of Rememberance
Threshold Books, 1996
Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Jumat, 10 Januari 2014

Bersama dengan-Mu


Bersama dengan-Mu
adalah satu-satunya sumber
kebahagiaanku.

Karena semua selain Engkau
adalah bentuk,
tapi hanya Engkau yang sungguh Haqq.

Jangan pernah pisahkan aku
dari-Mu,
karena tak mungkin
sebuah kapal berlayar
tanpa air.

Aku sebuah kitab yang cacat,
tapi ketika Engkau yang membaca,
Kau pulihkan aku.

Yusuf selamat                    [1]
walau dikepung seratus serigala
ketika Engkau yang menjadi gembala.

Setiap kali Engkau bertanya,
"Bagaimana kabarmu?"
wajahku memucat
dan air-mataku bercucuran.

Ke dua hal itu hanya lah tanda
bagi mereka yang kasar dan rendah;
apa lah artinya tanda-tanda bagi-Mu,
yang tak memerlukan satu pun tanda.

Kau dengar bisikan tak terucapkan,
Kau baca niat tak tertulis.

Kau perlihatkan visi
di luar tidur;
tanpa air
Kau perjalankan kapal.

Wahai diriku: diam lah,
karena dari ketiadaan telah tiba sabda,
"Kau tak dapat melihat Ku."           [2] 


Catatan:
[1]  Merujuk kepada kisah terkenal nabi Yusuf ketika remaja,
yang diperdayai saudara-saudaranya sendiri (QS Yusuf [12]: 13)
dan seterusnya.

[2]  Ode ini memberi sedikit singkapan tentang keakraban seorang
hamba yang berada pada tataran nabi atau wali, yang sedemikian
akrab, sehingga ber-"aku dan Engkau" dengan Rabb-nya.

Rujukan pada Al-Qur'an memperlihatkan, misalnya, keakraban nabi
Musa as, dengan Rabb, sedemikian rupa sehingga beliau berucap,
"... Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat
melihat-Mu. 
(Allah berfirman) Engkau  takkan sanggup melihat-Ku..."
(QS al-A'raf [7]: 143).



Sumber:
Rumi: "Divan-i Syamsi Tabriz,"  ghazal no. 2756
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry
dalam "Mystical Poem of Rumi 2"
The University of Chicago Press, 1979/ 1991.